BebasBanjir2015

Teknik Perundingan dan Mediasi

TEKNIK-TEKNIK PERUNDINGAN DAN MEDIASI UNTUK PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM

Oleh:  Antonia Engel dan Benedikt Korf

FOOD AND AGRICULTURE ORGANZATION OF THE UNITED NATIONS ROMA, 2005

Disusun dalam kerangka kerja Program Pendukung Penghidupan (Livelihood Support System); Sebuah program antar departemen untuk memperbaiki Dukungan untuk memperkuat kehidupan masyarakat pedesaan

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Imelda Siregar dan Tony Djogo, Disunting oleh Tony Djogo

PENDAHULUAN

APA ISI PANDUAN INI

Bukankah baik akan sekali jika kita bisa mengelola sumberdaya alam secara efektif dan dapat menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestariannya? Akan lebih baik juga jika kita lebih mengetahui bagaimana membantu masyarakat menghadapi berbagai konflik guna menghindari terjadinya kerusakan dan gangguan terhadap pengelolaan sumberdaya alam, tidak adanya pembangunan atau bahkan terjadinya kekerasan? Lebih baik lagi jika kita dapat membantu menciptakan kesempatan dan memberdayakan kemampuan masyarakat untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dalam pengelolaan sumberdaya alam, sambil membantu membangun hubungan-hubungan yang positif dalam masyarakat? Panduan ini melihat bagaimana perundingan (negosiasi) dan pembuatan kesepakatan (konsensus) dapat digunakan untuk mengelola konflik dan membangun kerjasama.

Panduan ini memberikan masukan praktis dan bertahap untuk bekerja dengan berbagai pihak terkait guna mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan dalam pengelolaan sumberdaya alam secara bersama (kolaboratif). Dalam hal ini, panduan ini memberikan perhatian pada penghidupan masyarakat (livelihood), yaitu cara hidup mereka dan hal-hal yang mempengaruhi cara hidup dan kerja mereka. Panduan ini juga memperhatikan kelestarian, yaitu menyimbangkan konservasi dan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pria dan wanita, sekarang dan di masa yang akan datang.

Tapi pertama-tama, apa sebenarnya arti dari ‘perundingan ‘ dan ‘kesepakatan’ itu ?

Ketika orang-orang berdiskusi satu sama lain dalam usaha untuk menyelaraskan keinginan-keinginan mereka yang saling bertentangan, mereka berunding. Orangorang yang terlibat dalam suatu perundingan disebut pihak-pihak. Sebagian perundingan bersifat sederhana dan sebagian lainnya rumit. Kadang-kadang suatu perundingan melibatkan dua pihak (misalnya pria dan wanita setempat menegosiasikan pemanfaatan lahan, pengawasan lahan hutan, penggunaan peralatan menangkap ikan, dll) yang berunding untuk mereka sendiri atau mewakili orang lain. Terkadang pula suatu perundingan melibatkan banyak pihak: pria dan wanita setempat, badan-badan pemerintah, pengusaha-pengusaha nasional dan multinasional, politisi, badan-badan pembangunan internasional dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau organisasi bukan pemerintah (ORNOP. Penting juga untuk diingat bahwa tidak ada satu pihakpun yang dapat dipaksa untuk berunding. Perundingan adalah suatu kegiatan yang bersifat sukarela.

Dalam beberapa perundingan, pihak-pihak yang berselisih menjadi begitu bersikeras dengan perbedaan-perbedaan mereka sehingga mereka tidak mampu lagi jalan keluar yang bersifat membangun bagi mereka. Dalam kasus-kasus seperti ini ‘pihak ketiga’, yaitu seorang fasilitator atau mediator, atau juru runding mungkin dapat membantu. Tugas dari seorang fasilitator/mediator adalah untuk membantu/mendampingi perorangan dan kelompok-kelompok untuk berunding dan mencapai kesepakatan dengan sukses.

Kata kunci lainnya di panduan ini adalah kesepakatan (konsensus). Kesepakatan bukan berarti bahwa setiap orang akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Bukan berarti pula bahwa suatu kesepakatan akan diputuskan dengan suara bulat, dan bukan berarti bahwa pengambilan keputusan dilakukan melalui pemungutan suara mayoritas.

Kesepakatan berarti bahwa setiap orang merasa bahwa kepentingan mereka telah disampaikan dan mereka dapat menerima kesepakatan yang dibuat. Mereka mungkin ingin memperoleh sesuatu yang lebih atau sesuatu yang dikurangi sana-sini, tetapi mereka menyetujui untuk menerima hasil perundingan.

Tujuan dari perundingan-perundingan berdasarkan kesepakatan adalah untuk mencapai hasil-hasil terbaik yang mungkin dapat dicapai untuk sebagian besar orang, atau setidaknya suatu hasil yang dapat diterima oleh semua orang. Membangun kesepakatan adalah karakteristik penting dari pengelolaan sumberdaya alam secara kolaboratif, dimana banyak pemangku kepentingan yang berbeda, seperti negara, masyarakat, LSM/ORNOP dan sektor swasta, harus berunding bagaimana sebaiknya untuk berbagi pengelolaan dan hak dan tanggung-jawab atas sumberdaya alam tertentu, seperti hutan, sungai, pantai atau padang rumput.

Dengan demikian, perundingan berdasarkan kesepakatan (concensus based negotiation) lebih dari sekedar suatu pendekatan untuk pengelolaan konflik. Cara atau pendekatan ini memainkan peranan penting dalam membantu masyarakat untuk membangun dan meningkatkan keahlian, pengetahuan dan jejaringan yang penting dalam kehidupan mereka.

Bagaimana hal ini dapat berlangsung? Setiap orang yang berbeda akan melihat dunia ini dengan cara yang berbeda dan memiliki kepentingan, kemampuan dan tujuan yang berbeda pula. Perundingan berdasarkan kesepakatan dapat membantu orang untuk memahami perbedaan-perbedaan serta menerima dan memanfaatkannya ke arah yang positif untuk kepentingan mereka dan masyarakat. Dalam hal ini, suatu hubungan dapat diperkuat dan kepercayaan dapat dibangun. Juga dapat memperkuat keterkaitanketerkaitan dan membangun kepercayaan. Kesadaran, pengetahuan dan keahlian untuk melakukan identifikasi dan mengatasi hambatan-hambatan pembangunan juga dapat ditingkatkan. Perundingan berdasarkan kesepakatan dapat memperbaiki pengaturan-pengaturan tentang akses dan pemanfaatan sumberdaya alam. Mereka juga dapat membantu meningkatkan pendapatan dan keuntungan melalui pengelolaan sumberdaya alam yang lebih bijaksana.

Banyak bentuk kerjasama yang berhasil dibangun dari tanggapan (respon) yang baru muncul terhadap konflik-konflik sumberdaya alam yang telah lama berlangsung. Hal ini menunjukan bahwa konflik dapat merupakan unsur-unsur yang kreatif dan membantu dalam suatu masyarakat. Walaupun demikian, keterlibatan pemangku kepentingan yang lebih besar dalam pembuatan keputusan juga dapat meningkatkan potensi konflik . Hal ini terutama terjadi karena dua alasan berikut :

  • Orang-orang, kelompok-kelompok dan lembaga-lembaga yang berbeda memiliki kepentingan-kepentingan yang berbeda sehubungan dengan pemanfaatan sumberdaya alam. Terkadang kepentingan satu kelompok bertentangan dengan kepentingan kelompok lainnya.
  • Orang-orang, kelompok-kelompok dan lembaga-lembaga juga memiliki bentuk-bentuk kemampuan yang berbeda untuk mempengaruhi perundingan dan keluaran dari suatu konflik. Mereka yang memiliki akses terbesar atas kemampuan/kekuatan tertentu cenderung untuk mempengaruhi keputusankeputusan atas sumberdaya alam sesuai dengan keinginan mereka.

Perbedaan-perbedaan yang mendasari suatu konflik adalah akibat dari kompetisi diantara peorangan dan kelompok-kelompok tertentu atas barang-barang atau material, keuntungan secara ekonomi, kepemilikan dan kekuasaan. Ketika pihakpihak yang terlibat merasa bahwa kebutuhan-kebutuhan mereka tidak dapat dipenuhi atau merasakan adanya ancaman terhadap nilai-nilai, kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan mereka, maka mereka merasa perlu untuk campur tangan; beberapa bentuk pengelolaan konflik mungkin diperlukan untuk menghindari terjadinya eskalasi kearah konflik yang merusak atau terjadinya kekerasan. Karena itu, antisipasi dan pengelolaan konflik merupakan komponen penting dalam pengelolaan sumberdaya alam secara kolaboratif. Tantangannya adalah bagaimana mengelola konflik sehingga kelebihan-kelebihan yang ada dapat dipertahankan (misalnya kesempatan untuk memahami pandangan orang lain, memperluas pilihanpilihan kehidupan atau menciptakan perubahan dan pembangunan), sedangkan kekurangan-kekurangan/kelemahan-kelemahan yang ada dapat dikurangi (misalnya gangguan yang besar, kurangnya pembangunan atau bahkan kekerasan).

Tujuan dari pengelolaan konflik adalah untuk ;

  • Melakukan identifikasi konflik laten dan menanganinya secara konstruktif (konflik laten akan didiskusikan lebih lanjut dalam panduan ini);
  • Mencegah eskalasi konflik yang ada;
  • Memanfaatkan konflik untuk mempromosikan perubahan sosial yang positif.

Pendekatan-pendekatan ini tidak berdiri sendirian. Hal ini akan sangat membantu jika pendekatan-pendekatan terintegrasi penuh kedalam suatu kerangka kerja pengelolaan kolaboratif yang luas, yang dibangun berdasarkan proses-proses yang mengarah pada manfaat dan capaian atau hasil yang saling menguntungkan.

UNTUK SIAPA PANDUAN INI DIBUAT?

Panduan ini diperuntukkan bagi para praktisi yang bekerja pada proyek-proyek kerjasama/partipsipasif dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pembangunan masyarakat pedesaan. Panduan ini juga berguna bagi para penyuluh, para penasehat organisasi-organisasi pemerintah dan LSM-LSM/ORNOP, badan-badan pembangunan dan perusahaan-perusahaan swasta yang ingin belajar bagaimana membantu/mendampingi masyarakat dalam proses perundingan berdasarkan kesepakatan.

Para pelatih dapat menggunakan materi-materi ini sebagai bahan bacaaan dalam mempersiapkan pelatihan-pelatihan pengelolaan konflik sumberdaya alam, sedangkan para peserta pelatihan dapat menggunakannya sebagai bahan bacaan selama dan sesudah pelatihan, yaitu ketika mereka menerapkan apa yang mereka pelajari dalam mengelola konflik.

Panduan ini mengasumsikan bahwa para pembaca telah mengetahui dan berpengalaman dalam pendekatan-pendekatan pengelolaan sumberdaya alam secara bersama (kolaboratif) melalui keterlibatan dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat, usaha perikanan skala kecil, dan pengelolaan DAS (daerah aliran sungai) secara integratif, dll.

TUJUAN DARI PANDUAN INI

Panduan ini memberikan petunjuk praktis bagaimana membangun dan mengelola proses perundingan berdasarkan kesepakatan yang melibatkan berbagai pihak atau pemangku kepentingan dalam proyek-proyek pengelolaan sumberdaya alam secara kolaboratif dan pembangunan masyarakat lainnya untuk perbaikan penghidupan mereka.

Secara khusus, panduan ini memusatkan perhatian pada situasi-situasi konflik dimana pihak ketiga (mediator) diminta untuk membantu agar perundingan berdasarkan kesepakatan dapat berjalan dan bekerja dengan efektif.

Suatu hal yang penting adalah memilih strategi yang sesuai bagi setiap konflik tertentu. Kadang-kadang strategi yang terbaik pun tidak dapat melakukan apapun juga. Tidak ada satupun pendekatan yang efektif untuk semua kasus karena orangorang dan persoalan-persoalan dalam setiap konflik berbeda-beda. Karena itu, panduan ini memperkenalkan dan mendiskusikan beberapa keuntungan dan kerugian dari sejumlah pendekatan pengelolaan konflik (misalnya adat/kebiasaan, hukum, alternatif) untuk membantu para praktisi menilai kemungkinan pendekatan (- pendekatan) apa yang paling sesuai untuk situasi konflik tertentu.

Panduan ini mencoba memberikan gagasan-gagasan bagaimana untuk memutuskan apakah perundingan berdasarkan kesepakatan merupakan strategi yang paling relevan bagi suatu konflik tertentu. Pembaca akan menemukan masukan-masukan dan rekomendasi-rekomendasi untuk :

  • Melakukan fasilitasi perundingan dan kesepakatan diantara individu-individu, kelompok-kelompok atau institusi-institusi yang menganggap bahwa mereka memiliki tujuan yang berbeda.
  • Memperluas pemahaman masyarakat terhadap kepentingan serta kebutuhan mereka sendiri dan orang lain;
  • Mendorong orang untuk tidak hanya memikirkan kedudukan mereka sendiri yang terkadang membua mereka lebih bersikeras dan emosional.

Secara ringkas, tujuan dari panduan ini adalah untuk :

  • Menerangkan bahwa konflik sumberdaya alam dapat mempengaruhi (secara positif atau negatif) pengelolaan sumberdaya alam secara kolaboratif dan penghidupan atau kesejahteraan mereka yang berkelanjutan;
  • Memperkenalkan berbagai pendekatan dalam pengelolaan konflik (misalnya adat/kebiasaan, hukum, alternatif) untuk membantu pengambilan keputusan tentang pendekatan yang paling sesuai;
  • Memperkenalkan prinsip-prinsip perundingan berdasarkan kesepakatan sebagai sebuah metode untuk menghadapi konflik-konflik sumberdaya alam secara konstruktif;
  • Menggambarkan proses-proses dan teknik-teknik perundingan berdasarkan kesepakatan;
  • Membangun kepekaan pada mediator akan tugas-tugas dan tanggung-jawab mereka sebagai pihak ketiga dalam perundingan berdasarkan kesepakatan.

KEEFEKTIFAN PERUNDINGAN BERDASARKAN KESEPAKATAN

Perundingan berdasarkan kesepakatan lebih efektif bagi beberapa bentuk atau jenis konflik dibandingkan dengan konflik yang lain. Sebagai contoh, konflik-konflik yang timbul karena perbedaan minat dalam pemanfaatan sumberdaya dapat dirundingkan, sedangkan kebutuhan-kebutuhan dasar, seperti jatidiri, keamanan, pengakuan/penghargaan atau partisipasi yang sama dalam masyarakat, biasanya tidak dapat dirundingkan. Oleh karena itu, teknik-teknik perundingan kurang berguna dalam menyelesaikan ketegangan-ketegangan struktural dan konflik-konflik jatidiri dibandingkan untuk penyelesaian perselisihan akibat menipisnya ketersediaan sumberdaya. Karena ketegangan-ketegangan struktural seringkali terjadi pada tingkat regional atau nasional (persaingan atau tumpang tindihnya tata-tertib hukum, ketimpangan-ketimpangan dalam sistem-sistem sosial-ekonomi dan politik, dll), maka pengelolaan konflik-konflik tersebut cenderung untuk melibatkan langkah-langkah seperti reformasi politik, penyesuaian struktural, demokratisasi dan/atau konvensikonvensi protokol internasional.

Keberhasilan perundingan berdasarkan kesepakatan dibatasi oleh dua faktor tambahan :

  • Keadaan (sumberdaya) yang tidak dapat diubah dalam beberapa konflik lingkungan (tidak seorang pun dapat merubah situasi tersebut). Sebagai contoh, dalam beberapa kasus, konflik-konflik tidak dapat diselesaikan dalam win-win solution, yaitu sebab ketersediaan sumberdaya yang ada mungkin terbatas, dan karenanya peningkatan pemanfatan sumberdaya alam tersebut oleh satu pihak dapat mengurangi ketersediaannya bagi pihak yang lain;
  • Perbedaan kekuasaan yang besar diantara orang-orang, kelompok-kelompok dan badan-badan yang terlibat, misalnya masyarakat lokal, LSM/ORNOP lokal, badan-badan pemerintahan, dan perusahaan-perusahaan multinasional. Pembangunan kesepakatan didasari oleh asumsi bahwa ketidakseimbangan kekuasaan diantara berbagai pihak yang berbeda tidak sedemikian mendasar/besar sehingga pihak ketiga tidak dapat menjembatani mereka dalam proses perundingan.

ISI PANDUAN INI

Panduan ini, yang dibagi dalam 8 bagian, memberikan masukan dan pemikiran mendasar (atau dasar-dasar konsep) tentang perundingan berdasarkan kesepakatan. Tiga lampiran yang ada memberikan materi dasar untuk bahan bacaan selanjutnya dan untuk memperdalam pemahaman tentang isu-isu khusus yang menjadi perhatian.

Bagian 1 : Pendahuluan tentang konflik-konflik sumberdaya alam, kerjasama pengelolaan kolaboratif dan penghidupan/kesejahteraan yang berkelanjutan

Bagian ini menjelaskan apa itu konflik-konflik sumberdaya alam dan bagaimana konflik-konflik tersebut mempengaruhi penghidupan/kesejahteraan yang berkelanjutan. Bagian ini menguji peran pengelolaan konflik sumberdaya alam sebagai bagian dari pengelolaan sumberdaya alam secara kolaboratif, dan memberikan masukan dimana perundingan berdasarkan kesepakatan dapat benar-benar digunakan dengan baik.

Bagian 2 : Mengelola konflik

Bagian ini menggambarkan secara rinci kompleksitas kerumitan konflik dan menggali strategi-strategi dan pendekatan-pendekatan yang berbeda dalam pengelolaan konflik. Bagian ini memaparkan prinsip-prinsip perundingan berdasarkan kesepakatan dan mendiskusikan kelebihankelebihan dan keterbatasan-keterbatasan pendekatan ini.

Bagian 3 : Peta proses perundingan berdasarkan kesepakatan.

Bagian ini menampilkan 10 langkah peta proses yang menggambarkan bagaimana membangun dan mengelola sebuah proses perundingan/mediasi, dan menerangkan peran mediator dalam proses ini. Peta proses akan digali lebih lanjut pada bagian-bagian berikutnya.

Bagian 4 : Memasuki Wilayah Konflik/Entry

Bagian ini menjelaskan bagaimana para mediator dapat memasuki suatu situasi konflik dan memberikan gambaran tentang peran dan tanggungjawab khusus yang akan diambil oleh seorang mediator pada tahap-tahap awal pengelolaan konflik.

Bagian 5 : Analisis konflik

Bagian ini menunjukkan mengapa analisis konflik sangat penting, dimana dan bagaimana ia dilakukan dalam peta proses dan perangkat apa yang diperlukan. (lihat pula Lampiran 2).

Bagian 6 : Keikutsertaan para pemangku kepentingan

Bagian ini menerangkan bagaimana para mediator dapat melibatkan para pemangku kepentingan dalam proses pengelolaan konflik dan membantu mereka untuk merefleksikan atau melihat kembali sebab-sebab dari konflik dan pilihan-pilihan untuk mengatasinya, serta membantu mereka untuk mempersiapkan diri untuk bernegoisasi dengan pihak-pihak lainnya.

Bagian 7 : Perundingan dan membangun kesepakatan.

Bagian ini mendiskusikan bagaimana seorang mediator mempersiapkan dan memfasilitasi perundingan. Bagian ini akan menunjukkan berbagai langkah yang berbeda dalam proses perundingan serta memberikan saran untuk praktek-praktek mediasi yang lebih baik.

Bagian 8 : Keluar dari konflik/Exit

Bagian ini menekankan pentingnya memantau suatu kesepakatan dan mendiskusikan strategi-strategi bagi para juru penengah (mediator) yang secara bertahap akan mengurangi keterlibatan mereka seiring dengan meningkatnya keahlian, kepercayaan, dan rasa percaya diri pihak-pihak yang terlibat.

Lampiran 1 : Pengelolaan sumberdaya alam secara bersama (kolaboratif)

Lampiran ini memberikan pendahuluan dasar tentang prinsip-prinsip dan perangkat-perangkat pengelolaan sumberdaya alam kolaboratif untuk mereka yang kurang mengenal konsep ini.

Lampiran 2 : Panduan lapangan untuk analisis konflik

Lampiran ini memberikan gambaran yang sederhana tentang perangkat dasar dalam analisis konflik bagi para praktisi yang ingin mengaplikasikannya di lapangan.

Lampiran 3 : Studi kasus.

Lampiran ini mendokumentasikan dua kasus yang sukses difasilitasi dengan menggunakan perundingan berdasarkan kesepakatan di Ghana. Studi kasus-studi kasus ini menjelaskan latar-belakang konflik-konflik tersebut dan menggambarkan proses pengelolaan konflik, termasuk perangkat yang digunakan, kesulitan-kesulitan yang dihadapi, serta pelajaran-pelajaran yang didapatkan. Studi kasus-studi kasus ini dapat digunakan dalam pelatihan.

BAGAIMANA MENGGUNAKAN PANDUAN INI
Panduan ini menjelaskan bagaimana membangun dan mengelola proses perundingan. Peta proses yang dianjurkan dibagi kedalam 10 langkah tetapi bukan merupakan rancangan yang kaku. Proses yang sebenarnya tidaklah berjalan searah, tetapi bergerak maju atau kembali ke belakang sesuai dengan kebutuhan dan perubahan kapasitas. Langkah-langkah tersebut sangat fleksibel tergantung bagaimana proses perundingan berkembang.

Pengelolaan konflik merupakan proses pembelajaran bersama. Para pemakai panduan ini dianjurkan untuk mengambil pendekatan pembelajaran. Hal ini berarti pembelajaran melalui pengalaman dan aplikasi (penerapan) , uji coba, dan penyesuaian teknik-teknik dan strategi-strategi yang berbeda-beda yang diberikan disini. Mengelola konflik adalah sebuah proses analisis, perencanaan, tindakan, dan diatas semuanya adalah sebuah refleksi, selalu melihat kembali dan meninjau secara berulang prosesnya

DAFTAR ISTILAH

Mendengar secara aktif

Mendengar secara aktif adalah sebuah cara mendengarkan yang terfokus sepenuhnya pada apa yang orang bicarakan, memahami dengan baik isi dari pesan-pesan yang disampaikan dan emosi serta perasaan yang mendasarinya, sehingga pesan tersebut dapat dipahami dengan tepat (Conflict Research Consortium, 1998)

Pendekatan permusuhan (adversarial)

Pendekatan permusuhan dalam sebuah konflik memandang suatu pihak atau pihak-pihak lain sebagai lawan yang harus dikalahkan. Pendekatan ini sangat berbeda dengan pendekatan penyelesaian masalah yang memandang satu pihak atau pihak-pihak lain sebagai pihak dengan masalah bersama yang perlu diselesaikan bersama-sama. Pendekatan permusuhan biasanya berujung pada strategi-strategi konfrontasi persaingan sedangkan pendekatan penyelesaian masalah berujung pada strategi-strategi kooperatif (kerjasama) atau integratif (terpadu) dalam pendekatan terhadap situasi konflik (Conflict Research Consortium, 1998).

Musuh (adversary)

Musuh adalah orang-orang yang saling bertentangan dalam suatu konflik. Mereka melihat pihak-pihak lain sebagai lawan yang harus dikalahkan. Musuh juga diartikan sebagai penentang, pihak-pihak, atau yang berselisih. Penggunaan pendekatan permusuhan biasanya berujung pada strategi-strategi persaingan yang mengarah kepada konfrontasi.

Advokasi/pembelaan

Advokasi adalah proses mengambil posisi dan membela sisi/pihak tertentu atau kepentingan-kepentingan tertentu dalam suatu konflik. Pengacara-pengacara misalnya dilibatkan dalam advokasi pada saat mereka mewakili klien-klien mereka dalam masalah-masalah hukum. Pihak yang berselisih juga dapat membela diri mereka sendiri, yaitu dengan memberikan alasan-alasan untuk kedudukan mereka dalam perundingan, mediasi atau debat politik. Setiap usaha untuk meyakinkan pihak lain untuk menyetujui permintaan suatu pihak disebut advokasi/pembelaan (Conflict Research Consortium, 1998).

Arbitrasi

Arbitrasi adalah suatu metode penyelesaian perselisihan, dimana pihak yang berselisih mengajukan kasus-kasus mereka kepada pihak ketiga yang netral, yang kemudian mengambil keputusan untuk mereka dalam rangka untuk menyelesaikan konflik. Keputusan ini biasanya mengikat. Arbitrasi berbeda dengan mediasi, dimana pihak ketiga hanya membantu pihak yang berselisih untuk mengembangkan pemecahan masalah bagi diri mereka sendiri (Conflict Research Consortium, 1998).

Sikap/Pendirian

Sikap adalah tindakan atau tingkah laku yang memperlihatkan bagaimana seseorang berfikir atau merasa. Sikap seringkali dapat dilihat dari bagaimana cara seseorang memberikan tanggapan/reaksi terhadap orang lain, pengalamanpengalaman dan gagasan-gagasan (misalnya, dengan atau tanpa rasa hormat (respek), kepercayaan, perhatian, kepekaan, kemauan untuk mendengarkan, dll).

BATNA

BATNA adalah suatu istilah yang dikembangkan oleh Roger Fisher dan William Ury dan merupakan singkatan dari “best alternatif to a negotiated agreement” (BATNA) atau pilihan terbaik bagi kesepakatan yang dirundingkan). Setiap negosiator harus menentukan BATNA-nya sebelum menyetujui setiap penyelesaian yang dirundingkan. Jika penyelesaiannya sama baiknya atau lebih baik dari BATNA, maka kesepakatan yang dibuat harus diterima. Jika alternatif tersebut lebih baik, maka alternatif tersebut harus diikuti dan bukannya penyelesaian yang dirundingkan. Suatu pihak dengan BATNA yang baik (atau yang dianggap baik) tidak mungkin berkeinginan masuk kedalam perundingan, dan lebih memilih mengikuti pilihan alternatif terbaiknya (Conflict Research Consortium, 1998).

Hidup berdampingan (koeksitensi)

Hidup berdampingan berarti hidup bersama-sama secara damai dalam suatu wilayah geografi yang sama (Conflict Research Consortium, 1998).

Dasar bersama/kesamaan

Dasar bersama/kesamaan adalah hal-hal yang oleh dua orang atau kelompok dibagi atau dimiliki bersama. Hal ini termasuk hidup di tempat yang sama, atau memiliki nilai-nilai, kepentingan-kepentingan, kebutuhan-kebutuhan atau bahkan pengalaman-pengalaman atau ketakutan-ketakutan yang sama. Walaupun para pihak yang berselisih seringkali beranggapan bahwa mereka tidak memiliki sesuatu yang sama dengan pihak lawannya, mereka hampir selalu memiliki beberapa kesamaan, bahkan jika hal tersebut hanya berupa keinginan yang sama untuk hidup dengan damai dan aman tanpa rasa ketakutan terhadap pihak lainnya (Conflict Research Consortium, 1998).

Pendekatan kompetisi/kompetisi

Lihat pendekatan permusuhan

Faktor-faktor kontribusi

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap konflik merupakan dinamikadinamika, seperti masalah-masalah komunikasi atau eskalasi yang (walaupun bersifat umum) biasanya tidak ada hubungannya dengan konflik, tetapi hal tersebut dapat mengaburkan masalah-masalah utama di dalam konflik dan membuatnya semakin sulit dimengerti dan dihadapi.

Kompromi

Kompromi merupakan suatu pemecahan terhadap suatu masalah bersama yang dapat memenuhi sebagian (tetapi tidak semua) kepentingan dari setiap pihak.

Kolaborasi (Kerjasama)

Kolaborasi melibatkan orang-orang dengan berbagai macam kepentingan yang bekerjasama untuk mencapai jalan keluar yang memuaskan dan saling menguntungkan. Kolaborasi dikenal dengan berbagai istilah, termasuk pemecahan masalah, pembentukan kesepakatan, perundingan (negosiasi) berdasarkan kepentingan-kepentingan, win-win, hasil yang saling menguntungkan, dan perundingan-perundingan dasar. Tujuan dari kolaborasi adalah untuk mengelola perselisihan sehingga hasil/jalan keluar yang didapatkan bersifat membangun dan tidak merusak. Hasil yang merusak mengakibatkan kerusakan dan melibatkan eksploitasi serta kekerasan. Hasil yang membangun akan mendorong komunikasi, pemecahan masalah dan hubungan yang semakin baik.

Kolaborasi pengelolaan sumberdaya alam

“ ….suatu kemitraan dimana para pemangku kepentingan setuju untuk saling berbagi fungsi pengelolaan (manajemen), hak-hak dan tanggung-jawab atas suatu wilayah atau sejumlah sumberdaya” (Borrini-Feyerabend, 1996)

Konflik

Konflik terjadi ketika dua pihak atau lebih merasa kepentingan-kepentingan mereka bertentangan, memperlihatkan sikap bermusuhan, atau … mengejar kepentingan mereka melalui tindakan-tindakan yang merusak pihak-pihak lainnya. Kepentingan-kepentingan tersebut dapat dibedakan melalui: i) akses ke dan distribusi sumberdaya (misalnya wilayah, uang, sumber enegi, makanan); ii) kendali atas kekuasaan dan partisipasi dalam pengambilan keputusan politik; iii) jatidiri (budaya, sosial, dan masyarakat politik); iv) status, khususnya yang terwujudkan dalam sistem pemerintahan, agama atau gagasanologi” (Schmid, 1998).

Analisis konflik

Analisis konflik adalah identifikasi dan perbandingan kedudukan-kedudukan, nilai-nilai, tujuan-tujuan, isu-isu, kepentingan-kepentingan dan kebutuhankebutuhan dari pihak-pihak yang berkonflik (International Alert, 1996. III:16)

Manajemen konflik

Manajemen konflik adalah praktek mengidentifikasi dan menangani konflik secara bijaksana, adil, dan efisien dan mencegah konflik menjadi lepas kendali (kontrol) dan berubah menjadi kekerasan.

Resolusi konflik

Resolusi konflik berhubungan dengan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada proses yang bertujuan untuk menangani dan menyelesaikan akar permasalahan dan sebab utama dari suatu konflik.

Penyelesaian konflik

Penyelesaian konflik berhubungan dengan semua strategi yang berorientasi kepada tercapainya suatu dalam bentuk kesepakatan diantara pihak-pihak yang berkonflik yang memungkinkan mereka untuk menyelesaikan konflik bersenjata, tanpa perlu menangani penyebab-penyebab yang mendasari konflik.

Transformasi konflik

Transformasi konflik difokuskan pada usaha-usaha jangka panjang yang berorientasi untuk mendapatkan hasil, proses, dan perubahan struktural. Ia bertujuan untuk menanggulangi bentuk-bentuk kekerasan langsung, budaya, struktural yang muncul melalui transformasi hubungan sosial dan promosi yang dapat membantu menciptakan hubungan-hubungan kerjasama.

Kesepakatan

Pengambilan keputusan secara kesepakatan memerlukan keadaan dimana setiap orang setuju pada suatu keputusan, dan bukan hanya suara mayoritas, seperti yang terjadi dalam proses-proses berdasarkan aturan mayoritas. Dalam proses yang berdasarkan kesepakatan, orang-orang bekerja sama untuk membangun kesepakatan yang cukup baik (tetapi tidak harus sempurna) bagi semua orang yang ada agar dapat diterima oleh semua pihak (Conflict Research Consortium, 1998).

Pemilih/para pemilih

Pemilih atau para pemilih adalah orang-orang yang diwakili oleh pengambil keputusan. Para pemilih dari seorang pemimpin pemerintahan adalah warga negara yang dia wakili dalam parlemen atau beberapa badan legislatif lainnya. Para pemilih dari seorang negosiator adalah orang-orang yang dia negosiasikan. Contohnya, mereka dapat merupakan anggota-anggota suatu persatuan, kelompok kepentingan atau bisnis (Conflict Research Consortium, 1998).

Konflik/konfrontasi yang konstruktif (membangun)

Istilah “konstruktif” berkenaan dengan suatu bentuk konflik yang memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan biaya/pengorbanannya, yaitu sesuatu yang menarik orang bersama-bersama, menguatkan dan/atau meningkatkan hubungan mereka (dengan mendefinisikannya kembali dalam bentuk yang lebih sesuai dan berguna) dan membawa ke perubahan positif bagi semua pihak yang terlibat. Bentuk ini dapat dibandingkan secara kontras dengan konflik yang merusak, yang sebagian besar hasilnya negatif, yaitu mendorong orang memisahkan diri, merusak hubungan dan mengarah ke perubahan-perubahan negatif, termasuk eskalasi kekerasan, ketakutan, dan ketidakpercayaan (Conflict Research Consortium, 1998).

Kredibilitas

Kredibilitas berkenaan dengan tingkatan dimana seseorang atau suatu pernyataan dipercayai atau diyakini. Sebagian dari para pemimpin atau saksi ahli tidak dianggap kredibel (tidak dapat dipercaya) karena mereka memiliki kepentingan-kepentingan pribadi terhadap hasil dari suatu situasi atau konflik, yang kemungkinan akan mempengaruhi pandangan dan/atau pernyataan mereka tentang situasi atau konflik tersebut (Conflict Research Consortium, 1998).

Konflik/ konfrontasi yang merusak

Konflik/konfrontasi yang merusak sebagian besar memiliki hasil-hasil yang negatif, seperti mendorong orang-orang untuk memisahkan diri, merusak hubungan dan mengarah ke suatu perubahan-perubahan pribadi dan sosial yang negatif, termasuk eskalasi kekerasan, ketakutan, ketidakpercayaan. Bentuk ini dapat dibandingkan secara kontras dengan konflik/konfrontasi yang konstruktif (membangun) yang memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan dengan pengorbanannya dalam menarik orang-orang bersama-sama, menguatkan dan/atau meningkatkan hubungan mereka dan mengarah kepada perubahan positif bagi seluruh pihak yang terlibat.

Konteks pembangunan

Konteks pembangunan berkenaan dengan aspek-aspek sosial, ekonomi,dan politik dari suatu konflik. Aspek-aspek sosial adalah hubungan-hubungan yang ada di masyarakat pada waktu konflik terjadi. Sebagai contoh, suatu kelompok mungkin lebih dominan secara sosial dan/atau ekonomi sedangkan pihak lain kurang berhasil atau diperlakukan dengan tidak adil. Aspek-aspek politik adalah sistem politik atau struktur pengambilan keputusan dalam masyarakat atau negara dimana konflik terjadi. Siapa yang memegang kekuasaaan dalam masyarakat atau kelompok sosial? Apakah keputusan-keputusan dibuat secara demokrasi atau oleh suatu sistem yang otoriter?

Dialog

Dialog adalah suatu proses untuk berbagi dan belajar mengenai kepercayaankepercayaan, perasaan-perasaan, kepentingan-kepentingan dan/atau kebutuhankebutuhan pihak lain dengan cara tanpa permusuhan dan terbuka, dan biasanya dengan bantuan fasilitator pihak ketiga. Tidak seperti mediasi, dimana tujuannya biasanya untuk mendapatkan suatu resolusi atau penyelesaian perselisihan, tujuan dari dialog biasanya hanya untuk meningkatkan pemahaman dan kepercayaan antara individu.

Pihak yang berselisih

Pihak yang berselisih adalah orang-orang, kelompok-kelompok atau organisasiorganisai yang saling berkonflik satu dengan lainnya. Mereka kadang-kadang juga disebut pihak-pihak.

Resolusi perselisihan

Lihat Resolusi Konflik

Emosi

Emosi adalah perasaan psikologi yang merupakan hasil dari, dan memberikan kontribusi terhadap suatu konflik. Contohnya adalah kemarahan, perasaan malu, ketakutan, ketidakpercayaan dan perasaan ketidakberdayaan. Apabila emosi dikelola dengan baik, emosi tersebut bisa menjadi sumberdaya bagi resolusi konflik yang efektif. Sedangkan bila emosi tidak dikelola dengan baik, ia dapat memperbesar konflik dengan meningkatkan ketegangan dan membuat situasi menjadi lebih sulit untuk diselesaikan (Conflict Research Consortium, 1998).

Pemberdayaan

Pemberdayaan berarti memberikan kekuatan yang lebih kepada seseorang atau suatu kelompok. Hal tersebut dapat dicapai oleh pihak tersebut sendiri melalui pendidikan, pembentukan koalisi, organisasi masyarakat, pengembangan sumberdaya atau bantuan advokasi. Hal tersebut juga dapat dicapai oleh suatu mediator yang bekerja dengan seseorang atau suatu kelompok yang lebih lemah untuk membantu mereka mewakili diri mereka sendiri secara lebih efektif. Walaupun metode yang terakhir dapat menyebabkan dilema etik (karena lebih banyak membantu satu pihak dibandingkan dengan yang lainnya sehingga mengorbankan ketidakberpihakan mediator) hal ini banyak terjadi dalam . pendekatan mediasi yang diarahkan kepada penyelesaian masalah, yang paling baik dapat dilakukan apabila kedua-belah pihak mempunyai kekuatan/kemampuan yang relatif sama. Baruch Cush dan Joe Folger menganjurkan pemberdayaan kedua-belah pihak secara simultan melalui mediasi transformatif, yang mencoba memperbaiki/menghidupkan “kesadaran akan nilai-nilai dan kekuatan-kekuatan serta kemampuan mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan-persoalan”. Pendekatan ini mencegah dilema etik akibat pemberdayaan satu-pihak, tetapi mengorbankan fokus utama dalam mencapai suatu penyelesaian (Conflict Research Consortium, 1998).

Eskalasi

Eskalasi adalah intensitas konflik yang meningkat. Menurut Pruitt dan Rubin (1986, 7-8), ketika suatu konflik mengekskalasi, pihak-pihak yang berselisih merubah taktiknya dari kedudukan dan sikap yang relatif lunak menjadi lebih keras dan lebih konfrontatif. Jumlah pihak yang terlibat cenderung meningkat, demikian pula dengan jumlah persoalan dan luasnya persoalan-persoalan tersebut (artinya mereka meluas dari persoalan-persoalan yang khusus menjadi lebih global). Pihak-pihak yang berselisih pun berubah dan bergerak dari keinginan untuk memenangkan diri mereka sendiri menjadi keinginan untuk menyakiti pihak lawan. Konflik-konflik dapat tereskalasi dengan cepat dan mudah, sedangkan de-eskalasi (penurunan intensitas konflik) seringkali lebih sulit untuk dicapai (Conflict Research Consortium, 1998).

Ekstrimis

Ekstrimis adalah orang-orang yang memiliki pandangan yang lebih keras dan seringkali lebih tegas dibandingkan pandangan orang-orang lain terhadap suatu situasi yang sama. Dalam konflik-konflik yang menjadi lebih besar, para ekstrimis mungkin akan menganjurkan respon arau tanggapan dengan kekerasan, sedangkan pihak-pihak yang lebih moderat mendorong tindakantindakan yang kurang ekstrim (Conflict Research Consortium, 1998).

Menyelamatkan muka (Face saving)

‘Muka’ dimaksudkan dengan imej seseorang, baik terhadap diri mereka sendiri ataupun terhadap orang lain. Pendekatan menyelamatkan muka adalah pendekatan yang tidak merusak citra pihak lain dengan membuat orang lain terlihat lemah, tidak layak, atau terlihat gagal. Sebaliknya, pendekatan ini membuat semua pihak terlihat bijaksana dan menang, bahkan walaupun sebenarnya hal itu tidak benar. Dengan memberikan kemungkinan kepada semua pihak yang berselisih untuk menyelamatkan muka, maka suatu penyelesaian melalui perundingan mungkin akan lebih diterima.

Fasilitasi

Fasilitasi adalah “suatu cara untuk membantu pihak-pihak yang berselisih mencapai suatu kesepakatan yang memuaskan dan saling menguntungkan. Hal tersebut mungkin merupakan komunikasi diantara para pihak dengan fasilitasi pihak ketiga dan/atau suatu analisis situasi konflik dan hasil-hasil yang memungkinkan” (International Alert, 1996, II:6-7). Fasilitasi menunjukkan tingkat keterlibatan yang lebih rendah dibandingkan dengan mediasi. Para fasilitator mungkin diminta untuk memberikan keahlian-keahlian teknik mereka dalam suatu pertemuan tertentu, tetapi mereka jarang menjadi bagian yang menyatu dalam keseluruhan proses, seperti yang dilakukan oleh para mediator.

Paksaan

Paksaan berkenaan dengan suatu situasi dimana satu pihak yang berselisih dibuat untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan mereka melalui ancaman. Menurut istilah Kenneth Boulding, paksaan digunakan ketika orang diminta untuk “melakukan yang saya inginkan, atau apabila tidak saya akan melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan.” Paksaan tidak harus berupa kekerasan. Paksaan dapat hanya merupakan sebuah pernyataan yang memaksa/mendesak, contohnya, “Jika anda tidak memenuhi permintaan saya, saya akan memecat anda dari pekerjaan anda, atau saya akan melakukan mogokmakan, atau saya akan memperlambat pekerjaan” (Conflict Research Consortium, 1998).

Kerangka Masalah Konflik (Frames)

Kerangka adalah cara-cara untuk mendefinisikan masalah. Sebagian orang mungkin mendefinisikan suatu persoalan dipandang dari segi hak-hak, sedangkan yang lain mungkin mendefinisikannya dari segi kepentingan atau kekuasaan relatif. Kedudukan-kedudukan yang berbeda ini kadang-kadang dirujuk sebagai ‘kerangka yang berbeda’.

Framing (Membuat Kerangka Masalah Konflik)

Framing adalah cara seseorang untuk membangun dan menggambarkan suatu konflik. Sama halnya dengan suatu bingkai yang digunakan untuk membingkai suatu foto, yang akan memasukkan bagian tertentu dari foto tersebut dan menghilangkan bagian yang lainnya, demikian juga orang dapat mendefinisikan beberapa aspek dari suatu persoalan sebagai sesuatu yang penting sedangkan aspek lainnya tidak diacuhkan atau tidak diketahui.

Tawar-Menawar untuk Perundingan yang sulit (Hard Bargaining)

Istilah ini berkenaan dengan perundingan kompetitif dan bermusuhan yang memandang pihak yang berlawanan sebagai musuh yang harus dikalahkan dan bukannya seorang mitra yang dapat diajak bekerja secara kooperatif. Fisher dan Ury membedakan secara jelas antara tawar-menawar yang sulit (hard bargaining) dengan tawan-menawar yang mudah (soft bargaining) (yang sangat mudah mendamaikan hal-hal penting) dan pendekatan yang ketiga, yaitu perundingan berdasarkan prinsip (principled negotiation) yang bukan merupakan perundingan yang sulit atau mudah tapi lebih bersifat integratif dalam pendekatannya (Conflict Research Consortium, 1998).

Kebutuhan manusia

Kebutuhan manusia adalah segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua orang untuk bertumbuh dan berkembang secara normal. Pertama kali ditemukan oleh psikolog Abrahan Maslow, kebutuhan-kebutuhan manusia melampaui kebutuhan-kebutuhan fisik nyata seperti bukan hanya makanan dan tempat tinggal, tetapi termasuk pula kebutuhan-kebutuhan psikologi seperti keamanan, cinta kasih, jatidiri, rasa percaya diri dan kemampuan untuk mencapai suatu tujuan. Beberapa pembuat teori konflik (mengacu kepada “teori-teori kebutuhan manusia”) berpendapat bahwa konflik-konflik yang paling sulit dan tegang, seperti konflik-konflik rasial dan etnis, disebabkan oleh penolakan/pengingkaran dari satu atau kedua kebutuhan fundamental manusia dari suatu kelompok, yaitu kebutuhan akan jatidiri, keamanan dan/atau pengakuan. Dalam penyelesaian konflik-konflik seperti ini, harus ditemukan cara untuk menyediakan kebutuhankebutuhan ini bagi semua individu dan kelompok tanpa kompromi: kebutuhankebutuhan manusia “ bukan untuk diperdagangkan” (Conflict Research Consortium, 1998).

Jatidiri/identitas

Jatidiri mengacu kepada cara bagaimana orang melihat diri mereka sendiri (kelompok-kelompok dimana mereka merasa menjadi bagian daripadanya, dan aspek-aspek penting/berarti dari mereka sendiri yang mereka gunakan untuk menggambarkan diri mereka kepada orang lain). Beberapa pembuat teori membedakan antara jatidiri kolektif, jatidiri sosial, dan jatidiri pribadi. Meskipun demikian, semuanya berhubungan dengan gambaran siapa orang itu dan bagaimana orang tersebut masuk dalam suatu kelompok-kelompok sosial dan masyarakat secara keseluruhan (Conflict Research Consortium, 1998).

Konflik-konflik jatidiri

Konflik-konflik jatidiri berkembang bila seseorang atau suatu kelompok merasa bahwa perasaan mereka tentang diri mereka sendiri (siapa seseorang itu) terancam atau ditolak legitimasinya atau dihargai. Konflik-konflik agama, etnis dan rasial adalah contoh dari konflik-konflik jatidiri (Conflict Research Consortium, 1998).

Ketidakberpihakan

Ketidakberpihakan merujuk kepada sikap pihak ketiga. Pihak ketiga yang tidak berpihak tidak akan lebih memilih salah satu pihak daripada pihak lainnya, tetapi akan mendekati kedua-belah pihak secara seimbang. Mungkin ketidakberpihakan sulit untuk dicapai dan pihak ketiga mungkin harus berusaha secara aktif untuk memperlakukan kedua-belah pihak secara sama jika ia cenderung untuk memilih suatu pihak atau alasan mereka dibandingkan dengan pihak lainnya (Conflict Research Consortium, 1998).

Kepentingan-kepentingan yang berbeda/tidak sejalan

Kepentingan-kepentingan yang berbeda adalah segala sesuatu yang orang-orang inginkan dan hal tersebut tidak dapat diraih secara bersamaan. Misalnya, suatu masyarakat memiliki anggaran yang terbatas bagi pelayanan umum dan empat lembaga-lembaga pelayanan masyarakat (polisi, sekolah, rumah sakit dan dinas lalu-lintas) membutuhkan peningkatan anggaran yang meningkat untuk melaksanakan pelayanan mereka. Dalam hal ini, lembaga-lembaga tersebut memiliki kepentingan-kepentingan yang berbeda, karena tidak semua permintaan dana mereka dapat dipenuhi secara bersamaan (Conflict Research Consortium, 1998).

Indikator/tolok ukur

Indikator-indikator adalah prediksi-prediksi, kejadian-kejadian yang mendahului, serta tanda-tanda yang digunakan untuk membuat perkiraanperkiraan. Berikut ini adalah seperangkat indikator (Schmid, 1997: 50): i) penyebab-penyebab sistemik: umum, dasar, struktur, akar, latar belakang kondisi; ii) penyebab-penyebab terdekat: keadaan-keadaan situasional khusus; dan iii) katalis-katalis langsung: pemicu-pemicu ketergantungan yang istimewa.

Kepentingan

Kepentingan adalah sesuatu yang dipedulikan atau diinginkan oleh suatu pihak dalam suatu perselisihan. Hal-hal ini adalah keinginan dan kepedulian dasar yang memberi motivasi orang-orang untukmendapatkan suatu kedudukan tertentu. Kedudukan-kedudukan orang merupakan apa yang mereka katakan dan mereka inginkan (seperti “saya ingin membangun rumah saya di sini”), sedangkan kepentingan-kepentingan mereka adalah alasan-alasan mengapa mereka mengambil suatu kedudukan tertentu (“karena saya menginginkan rumah yang dekat dengan keluarga saya”). Kepentingan-kepentingan berbagai pihak kadang-kadang selaras dan karenanya dapat dirundingkan, bahkan ketika kedudukan-kedudukan mereka kelihatannya saling berlawanan.

Intoleransi/tidak toleran

Intoleransi adalah ketidakinginan untuk menerima keberadaan orang, kelompok atau gagasan lain yang berbeda dengan dirinya sendiri. Hal ini dapat mengakibatkan suatu usaha untuk mengabaikan orang atau gagasan-gagasan ‘yang tidak dapat disetujui’ atau dapat berakibat perlakuan terhadapa orang atau gagasan-gagasan tersebut sebagai ’bawahan’, seperti yang terjadi ketika orangorang dalam kelompok-kelompok etnik atau rasial tertentu didiskriminasi oleh kelompok yang dominan dalam suatu masyarakat (Conflict Research Consortium, 1998).

Konflik-konflik yang berkembang menjadi keras

Ini adalah konflik-konflik yang sudah berlangsung sejak lama, dan menolak sebagian besar (atau semua) usaha untuk menyelesaikannya. Biasanya mereka melibatkan ketidaksepakatan atas nilai-nilai dasar, masalah-masalah pembagian, persoalan-persoalan dominasi dan/atau pengingkaran kebutuhan-kebutuhan manusia. Semuanya adalah persoalan-persoalan yang tidak dapat dirundingkan. Mereka kadang-kadang terlibat dalam suatu situasi menang-kalah ( win–lose) yang tidak dapat dihindari (Conflict Research Consortium, 1998).

Legitimasi (keabsahan)

Legitimasi merujuk kepada keadilan dalam proses pemecahan suatu perselisihan. Sebagai contoh, suatu pemilihan atau proses peradilan yang adil berdasarkan hukum yang diterima secara sosial pada umumnya dianggap sah/legitim, seperti juga halnya dengan keputusan-keputusan yang dihasilkan dari proses-proses tersebut. Di pihak lain, suatu pemilihan dimana para pemilih diganggu dan dipaksa untuk membuat pilihan tertentu biasanya dianggap tidak sah, seperti juga halnya dengan keputusan pengadilan yang dijatuhkan oleh pengadilan yang bias. Keabsahan dari prosedur-prosedur pembuatan keputusan sangat penting, karena prosedur-prosedur yang tidak sah hampir selalu memperbesar konflik dan membuat penyelesaiannya akhirnya menjadi semakin sulit (Conflict Research Consortium, 1998).

Penghidupan (livelihood)

Suatu penghidupan adalah kombinasi antara pemanfaatan sumberdayasumberdaya dan aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk hidup. Sumberdayasumberdaya mungkin terdiri dari keahlian dan kemampuan individu (modal manusia), lahan, tabungan dan peralatan (secara berurutan: modal alam, keuangan, dan fisik) dan kelompok-kelompok penunjang formal atau jaringanjaringan informal yang membantu kegiatan-kegiatan yang dilakukan (Conflict Research Consortium, 1998).

Aset atau modal penghidupan

Aset-aset penghidupan merupakan komponen kunci dalam kerangka kerja penghidupan yang lestari. Aset-aset tersebut adalah aset-aset berdasarkan mana penghidupan dibangun. Mereka dapat dibagi menjadi 5 kategori inti (atau jenis modal): modal manusia, modal alam, modal keuangan, modal sosial, dan modal fisik. Pilihan orang-orang akan strategi-strategi penghidupan, seperti juga tingkat pengaruh yang mereka miliki dalam kebijakan, institusi-institusi dan proses-proses, tergantung sebagian pada bentuk dan campuran modal-modal yang tersedia bagi mereka. Orang-orang membutuhkan suatu kombinasi dari berbagai aset yang memungkinkan mereka untuk mencapai hasil-hasil penghidupan yang positif, seperti meningkatnya kualitas hidup secara signifikan dengan dasar-dasar yang berkelanjutan (DFID 1999).

Komponen-komponen penghidupan

Komponen-komponen penghidupan adalah unsur-unsur yang berbeda dari kerangka penghidupan yang berkelanjutan.

Tujuan-tujuan penghidupan

Tujuan-tujuan penghidupan adalah tujuan-tujuan yang dikejar-kejar oleh semua orang melalui strategi-strategi penghidupan. Tujuan-tujuan tersebut berhubungan erat dengan hasil-hasil penghidupan (DFID, 1999)

Hasil-hasil penghidupan

Hasil-hasil penghidupan adalah pencapaian, atau hasil dari strategi-strategi penghidupan. Hasil-hasil tersebut dapat diuji dalam hubungannya dengan kategori-kategori berikut: pendapatan yang meningkat; kesehatan yang lebih baik; berkurangnya kelemahan; meningkatnya ketersediaan makanan; penggunaan sumberdaya alam yang lebih lestari serta hubungan-hubungan dan status sosial (DFID, 1999)

Mediasi

Mediasi adalah perpanjangan atau elaborasi dari proses perundingan yang melibatkan pihak ketiga. Pihak ketiga ini bekerja dengan pihak-pihak yang berselisih untuk membantu mereka meningkatkan komunikasi mereka dan analisis mereka terhadap situasi konflik, sehingga mereka dapat melakukan identifikasi sendiri dan memilih suatu opsi untuk menyelesaikan konflik yang dapat memenuhi kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan bagi seluruh pihak yang berselisih. Berbeda dengan arbritrasi, dimana seorang penengah mendengarkan alasan-alasan dari kedua-belah pihak dan membuat keputusan bagi pihak-pihak yang berselisih, seorang mediator membantu pihakpihak yang berselisih mendisain pemecahan bagi mereka sendiri.

Kebutuhan-kebutuhan

Psikolog Abraham Maslow menyatakan bahwa semua orang terdorong untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologi dan biologi tertentu yang dia sebut sebagai kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Beberapa teoretikus konflik (seperti John Burton dan Herbert Kelman) telah menerapkan gagasan-gagasan ini dalam teori konflik dan menyatakan bahwa kebutuhan-kebutuhan akan keamanan, jatidiri dan pengakuan mendasari sebagian besar dari konflik-konflik yang telah mengakar dan berlarut-larut. Mereka berpendapat bahwa sebagian besar konflik etnik dan rasial bukanlah dikarenakan karena perbedaan kepentingan (dan karenanya tidak dapat dirundingkan), tetapi didorong oleh tuntutan kelompok-kelompok kalangan bawah terhadap kebutuhan-kebutuhan fundamental. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik-konflik kebutuhan adalah menata ulang strukturmasyarakat sehingga kebutuhan-kebutuhan fundamental seluruh masyarakat dapat dipenuhi (Conflict Research Consortium, 1998).

Perundingan

“Perundingan adalah suatu bentuk pengambilan keputusan dimana dua pihak atau lebih berdiskusi satu sama lain dalam usaha untuk menyelesaikan kepentingan-kepentingan mereka yang berlawanan” (D.G. Pruitt). Perundingan bisa berjalan kooperatif, yaitu ketika kedua-belah pihak mencari suatu pemecahan yang saling menguntungkan (biasanya disebut sebagai perundingan berdasarkan kepentingan). Perundingan bisa pula berlawanan (biasanya disebut menang-kalah (win–lose) atau permusuhan), bila kedua-belah pihak berusaha untuk menang atas yang lainnya.

Netralitas

Netralitas berarti bahwa pihak ketiga tidak berhubungan dengan atau sebelumnya tidak memiliki hubungan dengan pihak manapun yang berselisih.

Pihak-pihak

Pihak-pihak adalah orang-orang yang terlibat dalam perselisihan. Sebagian besar pihak adalah pihak yang berselisih; mereka adalah orang-orang yang berselisih satu sama lain. Pihak lain, atau pihak ketiga, melibatkan diri dalam suatu perselisihan untuk membantu pihak-pihak yang berselisih menyelesaikannya. Para mediator dan hakim adalah contoh dari pihak ketiga.

Bujukan

Bujukan merupakan usaha-usaha untuk meyakinkan pihak lain untuk merubah sikap dan/atau tindakannya. Walaupun hal tersebut dapat dilakukan melalui paksaan, istilah “bujukan” pada umumnya memiliki makna yang lebih positif dan merujuk pada permohonan emosi dan rasio berdasarkan nilai-nilai dan pemahaman bersama (Conflict Research Consortium, 1998).

Polarisasi

Polarisasi suatu konflik terjadi bila intensitas konflik tersebut meningkat (artinya meluas). Bila eskalasi terjadi, seringkali orang-orang yang terlibat didalam konflik menjadi semakin banyak dan mereka mengambil kedudukan yang kuat di satu sisi atau sisi lainnya. Polarisasi terjadi dalam proses ini, dimana orangorang bergerak kearah kedudukan yang ekstrim (‘kutub’) sehingga orang-orang yang berada pada kedudukan “di tengah” menjadi semakin sedikit (Conflict Research Consortium, 1998).

Kedudukan-kedudukan

Kedudukan-kedudukan adalah apa yang orang-orang katakan diinginkan oleh mereka, yaitu tuntutan-tuntutan buatan terhadap lawan-lawan mereka. Menurut Fisher dan Ury, teoretikus-teoretikus yang pertama-kali membedakan kepentingan dan kedudukan, kedudukan adalah apa yang orang-orang telah putuskan, sedangkan kepentingan adalah apa yang menyebabkan mereka membuat keputusan tersebut. Kedudukan di satu sisi biasanya akan berseberangan dengan lawannya, sedangkan kepentingan-kepentingan mereka sebenarnya mungkin bisa sejalan.

Kekuasaan

Kekuasaan adalah kemampuan untuk mendapatkan apa yang seseorang inginkan, atau yang menurut teoretikus konflik Kenneth Boulding, adalah “merubah masa depan”. Hal ini dapat terjadi melalui paksaan (kadang-kadang disebut sebagai ‘kekuasaan atas (sesuatu)’), kerjasama (disebut sebagai “kekuasaan dengan”) atau sistem yang terpadu, yaitu sistem jatidiri dan hubungan-hubungan yang mengikat orang-orang untuk bersama-sama dalam suatu kelompok.

Konflik sosial yang berlarut-larut

Ini adalah konflik yang telah terjadi bertahun-tahun atau bahkan beberapa generasi dan memiliki karakteristik: “ … hal-hal yang berlangsung terusmenerus  seperti keterbelakangan ekonomi dan teknologi, sistem sosial dan politik yang tidak terintegrasi dan menghasilkan ketidakpastian dan ketidakadilan yang merata; … ketidakmampuan atau tidak adanya keinginan untuk memenuhi syarat-syarat sosial berikut untuk individu dan pembangunan sosial: keamanan, jatidiri, pengakuan dan partisipasi; [suatu] pengingkaran kebutuhan-kebutuhan manusia, dan [penciptaan] ketakutan, kegelisahan, dan ketidakamanan [yang] menciptakan perpecahan sosial … kadang-kadang [terbentuk] disekitar isu-isu jatidiri sosial dimana kesukuan menjadi manifestasi yang paling menyolok; … berada didalam dan melewati batas-batas negara, yang membuat perbedaan-perbedaan antara politik-politik domestik dan internasional seperti dibuat-buat” (Azar, 1986;1990; cited in Schmid, 1998).

Rekonsiliasi

Rekonsiliasi adalah normalisasi hubungan-hubungan diantara orang-orang dan kelompok-kelompok. Menurut John Paul Lederach, hal tersebut melibatkan empat proses yang simultan: pencarian kebenaran, keadilan, kedamaian, dan kemurahan hati. Bila keempat faktor tersebut dapat berjalan bersama, rekonsiliasi telah dicapai (Conflict Research Consortium, 1998).

Membuat-ulang kerangka (reframing)

Membuat-ulang kerangka konflik adalah proses mendefinisikan kembali suatu situasi, yaitu melihat suatu konflik dengan cara pandang yang baru berdasarkan input dari orang lain yang mendefinisikan situasi tersebut secara berbeda.

Persoalan-persoalan hubungan

Ini adalah masalah-masalah diantara dua atau lebih orang yang terlibat dalam suatu hubungan diantara mereka. Sebagai contoh, suatu konflik dapat disebabkan karena dua orang tidak saling mempercayai atau karena mereka berada dalam persaingan yang keras dan terus-menerus satu sama lainnya (Conflict Research Consortium, 1998).

Resolusi

Lihat Resolusi konflik

Kesiapan

Suatu konflik dikatakan “siap” untuk penyelesaian atau perundingan bila konflik tersebut telah mencapai jalan buntu, atau bila semua pihak-pihak telah memutuskan bahwa alternatif-alternatif mereka untuk perundingan tidak memberikan mereka apa yang mereka inginkan atau butuhkan. Bila hal ini terjadi, semua pihak kemungkinan besar siap untuk menegosiasikan suatu penyelesaian yang akan memenuhi paling tidak sebagian dari kepentingankepentingan mereka – lebih dari yang mereka dapatkan atau akan mereka dapatkan bila mereka terus memaksakan opsi-opsi mereka.

Akar penyebab konflik

Terdapat perbedaan antara akar-akar penyebab suatu konflik, yaitu kepentingankepentingan, nilai-nilai dan kebutuhan-kebutuhan fundamental yang saling bertentangan satu sama lain, dan faktor-faktor kontribusi yang merupakan dinamika-dinamika seperti masalah-masalah komunikasi atau eskalasi yang biasanya tidak ada hubungannya dengan konflik, walaupun mereka dapat mengaburkankan persoalan-persoalan utama dan membuat mereka lebih sulit dimengerti dan dihadapi.

Tawar-menawar yang lunak/ringan

Istilah ini berkenaan dengan perundingan yang sangat kooperatif dan damai yang terfokus pada pencapaian suatu kesepakatan dan tidak mengecewakan pihak lain. Fisher dan Ury membandingkannya dengan perundingan kompetitif dan permusuhan (adversarial), yang mengangap bahwa pihak lawan adalah musuh yang harus dikalahkan, dan bukannya seorang mitra yang dapat diajak bekerja secara bersama. Mereka membandingkan kedua pendekatan ini dengan yang ketiga (perundingan berdasarkan prinsip) yang tidak sulit ataupun lunak melainkan integratif dalam pendekatannya (Conflict Research Consortium, 1998).

Pemangku kepentingan

Para pemangku kepentingan adalah orang-orang yang akan dipengaruhi oleh
suatu konflik atau resolusi dari konflik tersebut. Termasuk didalamnya adalah pihak-pihak yang sedang berselisih, seperti juga orang-orang yang tidak terlibat dalam konflik tetapi mungkin akan menjadi terlibat, karena mereka mungkin akan terpengaruh oleh konflik tersebut dan hasil-hasilnya di masa yang akan datang.

Jalan buntu

Jalan buntu adalah kedudukan yang tidak dapat bergerak, yaitu suatu situasi dimana tidak satu pihakpun dalam konflik dapat menang, sekuat apa pun mereka berusaha. Pihak-pihak yang terlibat seringkali harus mencapai jalan buntu dahulu sebelum mereka bersedia untuk berunding untuk mengakhiri konflik mereka.

Stereotip

Stereotip adalah anggapan bahwa seseorang atau suatu kelompok memiliki satu atau lebih karakteristik karena sebagian besar anggota dari kelompok tersebut memiliki (atau dianggap memiliki) karakteristik-karakteristik tersebut. Hal tersebut merupakan proses penyederhanaan dan generalisasi yang membantu orang-orang untuk menggolongkan dalam kategori dan memahami dunia mereka, tetapi kadang-kadang menyebabkan kesalahan-kesalahan. Sebagai contoh dari suatu stereotip yang seringkali salah adalah kepercayaan bahwa wanita adalah lemah dan bersikap tunduk, sedangkan laki-laki penuh kekuatan dan mendominasi. Hal ini mungkin benar bagi sebagian wanita dan sebagian laki-laki, tetapi tidak keseluruhannya benar. Ketika stereotip-stereotip tidak tepat dan negatif (seringkali diantara kelompok-kelompok dalam suatu konflik), mereka mengarah pada kesalahpahaman yang membuat penyelesaian masalah menjadi semakin sulit (Conflict Research Consortium, 1998).

Pihak ketiga

Pihak ketiga adalah seseorang yang tidak secara langsung terlibat dalam suatu konflik tetapi menjadi terlibat dalam usaha untuk membantu pihak-pihak yang berselisih mencari suatu pemecahan masalah (atau setidaknya memperbaiki situasi dengan komunikasi yang lebih baik atau meningkatkan pemahaman antar-pihak). Contoh-contoh untuk pihak ketiga adalah para mediator, arbitrator, juru-damai, dan fasilitator.

Ancaman

Ancaman adalah setiap pernyataan yang berbentuk “engkau lakukan sesuatu yang saya inginkan, atau saya akan melakukan sesuatu yang tidak engkau inginkan”. Menurut teori kekuasaan Kenneth Boulding, ancaman adalah salah satu dari tiga bentuk kekuasaan. Dua bentuk lainnya adalah saling memberi dan apa yang dia sebut sebagai “cinta’, yang dalam panduan ini merujuk pada “sistem yang terpadu” (Conflict Research Consortium, 1998).

Kejadian-kejadian pemicu

Kejadian pemicu adalah suatu kejadian yang memulai (“menyulut”) suatu konflik . Hal tersebut dapat merupakan hal kecil, seperti pernyataan sederhana yang salah ditafsir atau suatu kesalahan akibat kecerobohan, atau hal yang besar/penting, seperti pembunuhan seorang pemimpin, penipuan dalam pemilihan atau sebuah skandal politik (Conflict Research Consortium, 1998).

Nilai-nilai

Nilai-nilai adalah gagasan-gagasan yang orang-orang miliki tentang apa yang baik, apa yang buruk dan bagaimana seharusnya suatu hal terjadi. Orang-orang memiliki nilai-nilai tentang hubungan-hubungan kekeluargaan (misalnya mengenai peran suami dalam hubungannya dengan istrinya), hubunganhubungan kerja (misalnya mengenai bagaimana seorang atasan memperlakukan karyawannya) dan persoalan-persoalan hubungan dan pribadi lainnya (misalnya bagaimana anak-anak harus bersikap terhadap orang dewasa, atau bagaimana orang-orang harus mengikuti ajaran agama tertentu) (Conflict Research Consortium, 1998).

Pendekatan win-lose (permusuhan)

Ini merupakan pendekatan penyelesaian konflik yang diambil oleh orang-orang yang memandang pihak lawan sebagai musuh yang harus dikalahkan. Diasumsikan bahwa agar suatu pihak menang, pihak yang lain harus kalah. Hal ini sangat berbeda dengan pendekatan win-win dalam suatu konflik , yang mengasumsikan bahwa jika pihak yang berselisih bekerja-sama, maka suatu penyelesaian masalah yang memberikan kemenangan bagi semua pihak dapat ditemukan (Conflict Research Consortium, 1998).

Pendekatan win-win (pendekatan kooperatif atau penyelesaian masalah)

Ini merupakan pendekatan penyelesaian konflik yang diambil oleh orang-orang yang menginginkan suatu pemecahan masalah yang dapat memuaskan semua pihak yang berselisih. Dalam perundingan menang-menang (win-win), pihakpihak yang berselisih berusaha untuk bekerja-sama guna menyelesaikan persoalan bersama dengan cara yang memungkinkan kedua-belah pihak untuk sama-sama “menang”. Hal ini sangat berbeda dengan pendekatan menang-kalah (win-lose atau permusuhan), yang menganggap bahwa seluruh pihak lawan adalah musuh, dan agar suatu pihak dapat memenangkan perselisihan maka pihak lainnya harus kalah (Conflict Research Consortium, 1998).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 165 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: