BebasBanjir2015

Konsep Relawan

Konsep Relawan di P2KP

Apa itu Relawan ?

Orang-orang atau warga masyarakat setempat yang bersedia mengabdi secara ikhlas dan tanpa pamrih, tidak digaji atau diberikan imbalan, rendah hati, berkorban, diusulkan serta dipilih oleh masyarakat berdasarkan kualitas sifat kemanusiaan atau moralitasnya, dan memiliki kepedulian serta komitmen yang sangat kuat bagi upaya memperbaiki kesejahteraan masyarakat miskin yang ada di sekitarnya maupun bagi upaya kemajuan masyarakat dan kondisi lingkungan wilayahnya. Dalam konteks keberlanjutan P2KP, relawan-relawan akan menjadi tulang punggung pelembagaan ‘Komunitas Belajar Kelurahan’.

Apa kontribusi relawan bagi pengembangan masyarakat ?

Kontribusi Relawan bagi pengembangan masyarakat, antara lain :

  1. Kerelawanan menghasilkan suatu cara masyarakat untuk dapat berkumpul dan membuat suatu perubahan melalui tindakan nyata.
  2. Tindakan kerelawanan yang dilakukan bersama-sama dapat membantu membangun “kepercayaan” diantara para relawan.
  3. Bekerja bersama juga membantu menjembatani berbagai perbedaan menuju “rasa percaya” dan “penghormatan” antar individu yang mungkin belum pernah bertemu sebelumnya.
  4. Secara alamiah kerelawanan kolektif berkontribusi pada pengembangan sosial dari masyarakat yang justru akan terus memperkuat kegiatan-kegiatan kerelawanan mereka.

Mengapa ada relawan di P2KP ?

Pelaksanaan program P2KP memerlukan relawan, karena :

  • Tolong menolong; di masyarakat, nilai yang paling mendasar adalah orang membantu orang lain yang dalam prosesnya justru membantu mereka sendiri. (kita adalah makhluk sosial)
  • Banyak cara seseorang dapat membantu orang lain (tidak terhitung)
  • Gotong royong dalam kerelawanan adalah suatu bentuk tipikal dari “Jaring Pengaman Sosial (JPS)” yang utama di masyarakat miskin.
  • Kebersamaan (social cohesion); adalah dampak positif dari tindakan kerelawanan.

Apa fungsi dan tugas Relawan ?

  • Fungsi Relawan: Mempercepat terjadinya proses penanggulangan kemiskinan dimasyarakat
  • Tugas Relawan: Membantu orang-orang lain (warga masyarakat), dan menjalankan misi sbg agen perubahan / pembaharu di masyarakat.
  • Peran-peran Relawan:
    Pendampingan masyarakat (terutama KSM, BKM, dan Unit Pelaksana):
    a. Capacity Building melalui “Coaching”
    b. Bantuan Teknis
    c. Membangun jaringan
    d. Mobilisasi sumberdaya

Bagaimana P2KP membuka ruang untuk mereka ?

Sejak awal RKW, setiap tahapan siklus, dan setiap saat dibuka kesempatan seluas-luasnya bagi relawan melalui: Pendaftaran relawan.
Konsep dasar : Menjadi relawan adalah panggilan hati seseorang untuk membantu orang lain secara “ikhlas”.
Tidak dibayar (upah); maksudnya ini adalah saringan awal untuk menyisihkan “si-dolphin”, dan membangun kultur sehat di warga agar terjamin keberlanjutannya. Basisnya: Nilai-nilai dan prinsip
Pembelajaran bagi BKM; bagaimana mengorganisasi kegiatan kerelawanan secara terencana baik (melalui siklus P2KP)
Dukungan teknis dan perlindungan dari pemerintah melalui fasilitasi P2KP-(suatu bentuk pengakuan); caranya:
– Kesempatan mengikuti pelatihan-pelatihan (Capacity Building)
– Fasilitasi Berjaringan

Refleksi Relawan P2KP

24 September 2004

KEBERADAAN Relawan menjadi kunci penting dalam pelaksanaan P2KP di masyarakat. Pemahaman tentang Relawan dalam P2KP berkembang seiring dengan perkembangan konsep pelaksanaan P2KP. Banyaknya persepsi yang berbeda atas apa itu relawan dan bagaimana keberadaannya, merupakan hal penting yang patut dijadikan bahasan utama dalam diskusi Coffee Morning kali ini.

Topik diskusi “Relawan”, sesuai dengan momen dilapangan, karena saat ini pelaksanaan P2KP 2 tahap 1 sedang melakukan pelatihan relawan. Coffee morning yang dilakukan tanggal 17 Agustus 2004, dimoderatori TL KMP Kurniawan Zulkarnain, dihadiri pula oleh Kepala PMU Ir. Danny Sutjiono, CES beserta beberapa staf proyek dan Tim Advisory. Diskusi kali ini juga mengundang TL KMW 1 Sujahri dan TA Monev KMW 3 Tjafjani Kholil dari P2KP 1-II untuk menggali pengalaman dari mereka mengenai kerelawan, sehingga jumlah peserta diskusi sekitar 23 orang.

Pada perspektif awal, sesuai PAD relawan diterjemahkan sebagai salah satu elemen dari Fasilitator, yang tugas utamanya adalah memberikan bantuan teknis untuk implementasi di tingkat masyarakat. Seperti yang disampaikan Sunaryanto, KMP bahwa dari PAD tersebut diartikan bahwa Relawan dipahami sebagai fasilitator komunitas terlatih maupun tenaga pembantu kelompok. Fasilitator komunitas terlatih, disaring dan para relawan oleh fasilitator kelurahan dan selanjutnya dilatih untuk dapat membantu tugas-tugas fasilitator kelurahan dalam mendiseminasikan program kepada masyarakat, urai Suanaryanto.

Sementara World Bank, seperti yang dituturkan Sunaryanto, awalnya hanya mendefinisikan kader masyarakat. Jadi selama ini belum ada rumusan apa itu relawan. Menurut World Bank, Kader masyarakat adalah tenaga pembantu kelompok yang diharapkan mempunyai keahlian tertentu dalam membantu kelompok tersebut, kata Sunaryanto.

United Nations Volunteer sebuah lembaga atau organisasi internasional relawan dibawah naungan UNDP menegaskan secara terukur, bahwa kerelawanan adalah suatu kegiatan sosial yang dilakukan secara aktif dengan tujuan menciptakan suatu perubahan dalam masyarakat yang dilayani tanpa mengharapkan keuntungan berupa upah imbalan ataupun karier, jelas Sunaryanto.

Sedangkan pengertian relawan P2KP saat ini seperti yang dituturkan Tim Advisory Sonny HK, relawan adalah seseorang secara individu atau berkelompok, yang secara “ikhlas” atau “rela” karena panggilan nuraninya memberikan (sebagian) apa yang dimilikinya (waktu, tenaga, pemikiran, dan/atau asset) untuk membantu orang lain yang membutuhkan pertolongannya.

Berdasarkan pengalaman P2KP 1 tahap 2, seperti yang dituturkan Sujahri, sebelum merekrut relawan, masyarakat menentukan kriteria relawan, kemudian mereka memilih calon relawan sesuai kriteria yang mereka buat. Perekrutan relawan berdasarkan pemilihan ini ada sisi kelemahannya, Sujahri sendiri menyadari hal itu, ia mengungkapkan ketika RKM, setelah masyarakat siap menerima P2KP, kemudian saat mereka diminta relawannya, kadang mereka salah memilih orang, sehingga orang yang baik tidak terpilih. Ini sangat bias, memang nantinya yang benar-benar relawan akan terseleksi dengan sendiri, namun mestinya kita tidak memilih tapi menggali orang baik, ujar Sujahri.

TA Pelatihan KMP Marnia Ness pun mengemukakan keberatannya jika harus dilakukan pemilihan, karena dengan pemilihan akan menumbuhkan kelas sosial baru. Hal ini tidak sesuai dengan konsepnya. P2KP menumbuhkan kepedulian, sosial capital, harusnya P2KP bisa mendorong relawan yang sudah ada menjadi simbol effect menumbuhkan kerelawanan di masyarakat, ulas Marnia.

Sub TA Kredit Mikro Muchtar Bahar menyatakan bahwa Pola rekrutmen relawan berubah dari pemilihan menjadi pendaftaran. Relawan tidak dibatasi pendaftarannya berdasarkan jumlah dan waktu.

Ada 2 kategori relawan di P2KP, yaitu Potensi Relawan dan Relawan Aktif. Pada awal pelaksanaan P2KP terjadi penurunan data Potensi Relawan, namun akhirnya terjadi penurunan Potensi Relawan dan Relawan Aktif, ungkap Sunaryanto. Mestinya jumlah relawan aktif tidak boleh turun, imbuhnya. Menurut TA Monev KMP Bagus mengemukakan bahwa penurunan terjadi karena tidak ada maintenance yang dilakukan pada relawan. Perlu bahasan khusus bagaimana menjaring, me-manage, dan me-maintenance relawan, ujarnya.

Dilain hal, Zulkarnain mengemukakan Relawan jika dilihat prinsip dan nilai merupakan suprastruktur yang tidak ada di proyek lain. Ia melontarkan suatu permasalahan mengenai bagaimana memperluas spektrum relawan , karena kebanyakan relawan berasal dari kalangan menengah (guru), bagaimana kalangan atas(dokter) juga tertarik untuk menjadi relawan. Zulkarnain mengemukakan bahwa spektrum relawan harus diperluas, P2KP harus membuat rancangan program yang sesuai dengan spektrum. Kalau konsep relawan bisa kita pegang secara utuh, maka bisa menjaring semua lapis di masyarakat, ungkapnya. Ada 3 bidang yang bisa perluas, yakni; Pendidikan dan Kesehatan, imbul Zulkarnain. Dalam hal ini Harianto ST dari proyek mencontohkan bahwa di Jateng , KMW memfasilitasi BKM-BKM untuk mengajak dokter-dokter di desa, sehingga dokter-dokter tersebut ada yang tersentuh untuk memberikan kartu sehat.

Dalam masalah relawan ini Sonny mencontohkan bahwa ada survei terhadap para relawan untuk kegiatan komite untuk Afrika, ternyata motivasi mereka untuk menjadi relawan yang paling dominan, antara lain: Belajar, Membantu, dan lain-lain. Ada motivasi lain, tapi kecil sekali, dimana mereka ingin upah. Sebenarnya mereka tidak diberi upah, hanya dana operasional saja. Di Yayasan ASOKA, para relawan dibiayai kehidupannya, tapi kalau terikat kontrak dengan pihak lain, maka dana untuk biaya hidup akan diputus, ulasnya.

Sonny mengemukakan bahwa sifat relawan terkait dengan aktivitas, di P2KP dibuka ruang bagi relawan untuk membantu, bisa dalam bentuk tenaga, pikiran bahkan materi. Awalnya mereka terlibat dalam kegiatan siklus, kedepannya bagaimana BKM bisa memanage para relawan tersebut. Ada NGO yang kegiatannya hanya sekedar memanage para relawan, NGO tersebut merekrut relawan, melatih dan menempatkan para relawan tersebut, ungkapnya.

Dalam aktifitas membangun suatu rumah, akan muncul relawannya, namun setelah rumah selesai dibangun, relawan akan selesai kerelawanannya, Sonny mencontohkan. Untuk menjaga kerelawanan, kita perlu merangkai aktifitas-aktifitas dalam capacity building, ujarnya.

Peran Pemerintah bagi relawan menurut Sonny adalah pengakuan dan perlindungan. Pengakuan artinya aktifitas-aktifitas mereka diakui, seperti diberikan sertifikat, sedangkan bentuk perlindungan antara lain yaitu adanya keterangan bahwa ia sedang bertugas, sehingga ia bisa di back up, urainya.

Sonny menceritakan pula, ketika ada bencana di Kalimantan, kemudian datang beberapa relawan dari berbagai unsur, mereka bertemu dan akhirnya sepakat membentuk suatu organisasi relawan.

Dari coffe morning ini disimpulkan antara lain bahwa Relawan bukan instrumen poyek, Relawan sudah ada sebelum P2KP masuk dan P2KP menstrukturkan relawan. Ketika P2KP datang, ia (relawan tersebut) akan sukarela menjadi relawan di P2KP. Sifat relawan ada dalam setiap diri manusia. Relawan harus ditemukan atau digali. Untuk itu, P2KP perlu melakukan sosialisasi dengan sentuhan-sentuhan tertentu, sehingga mereka tergerak untuk membantu penanggulangan kemiskinan.

Relawan akan difasilitasi untuk membentuk kelompok. Bisa dibentuk organisasi relawan secara Nasional yang akan dipayungi Depdagri dan Kimpraswil. (Nita)

Sumber: http://www.p2kp.org

Berniat Jadi Relawan?

Membantu orang lain mungkin sudah jadi kebiasaan kita sehari-hari. Tapi, bantuan kita bakal lebih besar manfaatnya dan fokus kalau ikutan jadi relawan. Seru, lho.

Selama ini kita sering membantu orang lain, kan? Tapi, pernah enggak terpikirkan kalau sebenarnya, selain senang membantu orang lain, kita punya kepedulian pada hal-hal tertentu yang khusus? Misalnya nih, kita selalu sebal melihat sampah yang menumpuk dan selalu geregetan mendengar berita kebakaran hutan. Atau, kita sedih tiap kali melihat anak-anak jalanan yang masih kecil di perempatan. Atau, kita peduli banget pada hak-hak cewek.

Semua kepedulian yang spesifik tadi sebenarnya bisa disalurkan untuk menolong orang lain. Caranya? Coba saja bergabung dengan sebuah, dua buah, tiga buah (tergantung tenaga, deh) organisasi yang concern pada masalah yang sering “mengganggu” kita itu. Kita bisa menjadi relawan dalam sebuah organisasi, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Kalau pengin jadi relawan pada suatu organisasi, kita perlu memiliki hal-hal sebagai berikut:

  1. Kemauan, minat yang kuat dalam bidang kerja relawan organisasi.
  2. Kemampuan, memiliki pengetahuan dan keterampilan atau kecakapan tertentu yang dibutuhkan oleh organisasi.
  3. Kebutuhan akan tantangan, mempunyai dan menyukai tantangan-tantangan baru dan memberikan jawabannya.
  4. esempatan, mempunyai waktu untuk memberi kontribusi pada organisasi sesuai kebutuhan organisasi.

Jenis dan peran relawan

Pada organisasi yang sederhana, latar belakang relawan yang dibutuhkan tidak terlalu macam-macam. Bisa anak sekolah, boleh sarjana. Terbuka untuk yang punya keahlian khusus maupun tidak. Sebaliknya, organisasi besar dan kompleks biasanya semakin banyak membutuhkan relawan dari berbagai latar belakang.

Secara umum, tugas relawan dalam organisasi dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu: mengambil keputusan atau kebijakan, mencari dana untuk membiayai kegiatan organisasi, membantu terlaksananya kegiatan untuk pencapaian tujuan organisasi.

Dalam sebuah organisasi kita bisa saja menjadi relawan sesuai dengan peran yang kita pilih, misalnya:

  • Relawan Kebijakan, yaitu relawan yang menjadi pengurus organisasi, merumuskan kebijakan-kebijakan umum organisasi. Untuk ini biasanya dipilih dari dan oleh anggota organisasi.
  • Relawan Lapangan, yaitu yang langsung melaksanakan kegiatan-kegiatan organisasi di lapangan tanpa mengharapkan imbalan material.
  • Relawan Sesaat, yaitu relawan yang hanya memberikan kontribusi pada saat-saat tertentu saja, tidak mengikatkan dirinya pada organisasi. Biasanya memberikan kontribusi sebagai narasumber dalam kegiatan tertentu saja.
  • Relawan Ahli, yaitu memberikan keahlian pada organisasi, baik melalui pemberian informasi maupun konsultasi. Memberikan masukan dalam arah kebijakan program dan organisasi sebagai bahan pertimbangan pengurus menetapkan kebijakan.

Motivasi relawan

Kalau menjadi relawan, tentu kita punya motivasi yang berkaitan dengan “mengapa” kita bersedia menjadi relawan suatu organisasi. Umumnya motivasi menjadi relawan dapat digolongkan dalam:

  1. Keagamaan. Orang melakukan sesuatu bagi sesamanya sebagai amal saleh atau perbuatan baik, dengan harapan mendapatkan balasan dari Tuhan.
  2. Rasa kesetiakawanan yang tertanam dalam hati sanubari. Orang berbuat sesuatu karena dorongan hati untuk berbuat sesuatu bagi kemanusiaan.
  3. Kebutuhan sosial. Orang aktif di organisasi, melakukan sesuatu karena dorongan untuk menjalin hubungan sesama manusia, sebab manusia merupakan makhluk sosial.
  4. Aktualisasi diri. Orang melakukan sesuatu karena dia ingin mengekspresikan dirinya, ingin berprestasi, berbuat terbaik.

Sebuah organisasi biasanya menempatkan kita sebagai relawan pada posisi tertentu, berdasarkan motivasi diri kita. Ada tiga jenis orang berdasarkan motivasinya:

Orientasi pada hasil karya (need for achievement). Ciri-ciri: suka pada pemecahan suatu masalah, ingin mencapai hasil terbaik, dan senang berjuang. Tipe ini cocok diberi tugas, antara lain, penggalian sumber dana (fundraising), kampanye atau promosi, dan mengetuai suatu panitia yang mempunyai tugas khusus.

Orientasi pada kekuasaan (need for power). Ciri-ciri: menaruh perhatian pada kedudukan dan reputasi, butuh mempengaruhi, senang mengubah pikiran orang lain, dan senang memberi nasihat (walaupun tanpa diminta). Jenis ini pas untuk pekerjaan penggalian sumber dana (fundraising), ceramah di muka umum atau public speaking, dan kepanitiaan dalam bidang yang berkaitan dengan perhatian publik.

Orientasi pada afiliasi (need for affiliation). Ciri-ciri: senang berhubungan dengan orang lain, ingin disukai, serta senang menghibur dan menolong orang lain. Tugas yang pas untuk tipe ini: pengelolaan keanggotaan, komite pembinaan relawan, dan lain-lain.

Ada juga jenis lain atas penampilan orang-orang yang memiliki kepedulian sosial, yaitu: impulsive helper, mechanical conformist, rational organizer, solid plodder, the rebel, dan solitary.

1. Impulsive Helper

Orang yang mendasarkan kepeduliannya pada perasaan pribadi, tampil sebagai orang yang mudah trenyuh pada penderitaan orang lain, dan secara impulsif ingin menolong melalui kegiatan-kegiatan karitatif atau derma. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan-kegiatan sosial yang bersifat karitatif.

2. Mechanical Conformist

Orang yang mempunyai kepedulian sosial cukup, tetapi terjebak dalam tata kerja yang birokratik. Mereka akan menjadi birokrat yang merasa memperhatikan rakyat, tetapi hanya di balik meja dan cenderung menolak perubahan. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang tidak menuntut inovasi.

3. Rational Organizer

Orang yang mengandalkan pada pikiran rasional yang didasari data ilmiah. Kelemahannya, yaitu pada ketidakmampuannya untuk bereaksi secara tepat ketika teorinya berbenturan dengan kenyataan di lapangan. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang berkaitan dengan perencanaan.

4. Solid Plodder

Orang yang mampu menyeimbangkan antara emosi, ketrenyuhan, pikiran rasional, dan kesadaran akan keterbatasan kemampuannya. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang berkaitan dengan perencanaan dan kegiatan operasional lapangan.

5. The Rebel

Orang yang disebut “pemberontak”, mempunyai kepedulian yang tulus, tetapi ingin menyelesaikan masalah dengan radikal. Kelompok ini cenderung membentuk LSM (organisasi) “asal beda”, misalnya jika pemerintah bilang “A”, mereka harus bilang “B”. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang berkaitan dengan advokasi (membela orang lain melalui jalur hukum).

6. Solitary

Orang yang bekerja sendirian, tidak melalui kelompok atau organisasi. Relawan yang berpenampilan seperti ini lebih banyak dilibatkan pada kegiatan yang tidak menuntut “kerja sama langsung”, jenis pekerjaan yang dapat dikerjakan dengan ketekunan sendiri, misalnya dalam desain grafis.

Chatarina Wahyurini dan Yahya Ma’shum (Dari Berbagai Sumber)

Sumber: Kompas, Jumat, 12 Desember 2003

Mempromosikan Sistem Pengelolaan Relawan yang Efektif

Rabu, 30 Agustus 2006

Pada tanggal 22-27 Agustus 2006, Yappika bekerjasama dengan VSO (Voluntary Service Overseas) Bahaginan Filipina, mengadakan pelatihan manajemen relawan di Wisma Hijau Cimanggis Depok. Pelatihan diikuti oleh 12 orang peserta dari kalangan LSM yang tersebar di beberapa kabupaten, yaitu Malang Corruption watch (MCW), National Democratic Institute (NDI), PKBI, Yayasan Bumi Sawerigading Palopo (Sulawesi Selatan), Yayasan Pendidikan Rakyat Bulukumba, Yayasan Pendidikan Rakyat Palu, KPPA Sulawesi Tengah, Jatam, KAPETA, Save the Children for Aceh (SEFA) dan Yayasan Triton Papua.

Pelatihan dibantu oleh dua orang trainer dari VSO Bahaginan Filipina dan Koordinator Regional VSO Asia Tenggara yang menyumbangkan keahliannya secara sukarela. Pelatihan manajemen relawan ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari rencana pengembangan relawan yang telah dilakukan oleh Yappika sejak tahun 2003, serta merupakan implementasi perencanaan strategis dalam hal mempromosikan manajemen relawan yang efektif yang dibuat pada waktu salah satu staf Yappika mengikuti kursus singkat tentang manajemen relawan di Filipina bulan September tahun 2005 lalu.

Yappika meyakini bahwa kesukarelawan adalah potensi sumber daya yang besar untuk turut mendukung perubahan sosial ke arah yang lebih baik. Para relawan bukan hanya dapat digerakkan untuk penanganan bencana alam, namun juga dapat menjadi masyarakat politik yang aktif menyuarakan hak, keadilan, kesetaraan, dan penyelamatan lingkungan melalui berbagai aksi nyata, maupun keterlibatan mereka dalam berbagai kampanye penyadaran atas berbagai isu sosial dan lingkungan di negeri ini.

Warga Bantul ini kemudian mengutarakan bahwa janji pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp. 30 juta bagi warga yang roboh rumahnya untuk membangun tempat tinggal belum dipenuhi. Hal yang paling menyedihkan menurut dia, bahwa kondisi tempat tinggal warga sangat tidak layak karena masih tinggal di tenda-tenda yang mengakibatkan warga terserang penyakit diare, demam, batuk. Terkait dengan itu, dia meminta pemerintah segera memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan tempat tinggal warga. Tatang, korban bencana Yogya yang lain sebagai peserta diskusi juga menyatakan hal yang sama. Dia menuturkan bahwa selain tidak ada jaminan keamanan dari pemerintah bagi korban bencana, juga tidak ada bantuan logistik.

Kerja-kerja kesukarelawanan sebenarnya sudah menjadi bagian dari kultur budaya Indonesia sejak jaman dulu. Gotong royong bersih desa, membangun rumah, membangun surau, prosesi pemakaman orang meninggal, pesta adat di daerah pedesaan, persiapan musim tanam di daerah pertanian desa, dan lain sebagainya. Istiah kerja-kerja kesukarelawanan pun dimiliki oleh berbagai suku. Misalnya: di Jawa dikenal istilah tarub, sambatan, rewang; di Papua, di Palu, Nosimporoa, di Bulukumba dll. Namun demikian, istilah relawan maupun tipe kerja yang dilakukannya baru muncul menjadi bahasan di media massa maupun perbincangan di masyarakat secara luas pada saat peristiwa berdarah Mei 98. Para relawan bekerja untuk menolong para korban kekerasan, baik secara fisik maupun pendampingan pemulihan psikologis secara intensif. Banyaknya pemberitaan media massa, forum-forum diskusi, maupun perbincangan sehari-hari mengenai kiprah relawan pada tragedi Mei 98, merupakan wujud pengakuan (recognition) publik atas kerja-kerja para individu yang bergerak bersama sebagai relawan.

Kontribusi kerja-kerja relawan dan pengakuan publik atas hasil kerja mereka kembali menggema pada saat tanggap darurat bencana tsunami di Aceh akhir tahun 2004 lalu. Kiprah para relawan pun berturut-turut didedikasikan untuk kerja-kerja kemanusiaan pada saat bencana di Nias, Yogyakarta, Pangandaran maupun di daerah konflik kekerasan seperti Ambon dan Poso. Itu semua merupakan bukti bahwa gerakan masyarakat terorganisir sebagai relawan yang telah mengkontribusikan tenaga, pikiran maupun harta benda dapat membuat perubahan ke arah perbaikan lebih cepat, meringankan beban orang lain maupun dalam konteks politik yang lebih luas.

Dalam lingkup organisasi masyarakat sipil (OMS) dengan berbagai bidang perhatian atau fokus isu yang digelutinya, kerja-kerja kesukarelawanan tidaklah asing, bahkan staf OMS sendiri pun kebanyakan bekerja melebihi waktu kerja pada umumnya. Kebanyakan dari mereka bekerja karena keyakinan atau idealisme tertentu, dan bukan karena kepentingan finansial semata. Namun demikian, semakin disadari bahwa kerja-kerja OMS untuk mendorong perubahan sosial ke arah yang lebih adil dan demokratis haruslah mampu merangkul dan melibatkan banyak orang. Beragam idealisme yang biasanya abstrak dan sulit dipahami oleh masyarakat awam, harus ditransformasi ke dalam bahasa yang sederhana sehingga idealisme itu tidak hanya elitis sehingga masyarakat dapat terlibat aktif di dalam gerakan perubahan itu. Salah satu cara yang menarik untuk dilakukan dan dikembangkan adalah melibatkan masyarakat sebagai relawan dalam gerakan OMS. Para relawan yang diorganisir ini bukan hanya memperkuat gerakan OMS, namun lebih jauh lagi mereka dapat menimbulkan efek bola salju dalam gerakan perubahan di masa depan.

Untuk melibatkan relawan dalam berbagai kerja dan isu yang digelutinya, penting bagi OMS untuk mempersiapkan manajemen yang tepat dan sesuai dengan langgam atau keunikan organisasi masing-masing, agar mampu mengelola relawan dengan baik. Jika tidak, maka sangatlah sulit menarik perhatian masyarakat sebagai relawan di organisasi kita, atau sulit mempertahankan keberadaan relawan di dalam organisasi kita. Tidak ada standar baku dalam mengelola relawan, namun ada prinsip-prinsip yang penting dipelajari dan menantang untuk dicoba.

Sri Indiyastuti (Humas Yappika).
Sumber: http://www.yappika.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=38&Itemid=69

Konsep Relawan Palang Merah Indonesia (PMI)

Apa itu Relawan?

Pada dasarnya Palang Merah dan Bulan Sabit Merah tergantung pada relawan dalam kepeminpinan dan pelayanan jasa, walaupun staff juga memiliki peranan yang penting dalam membantu jalannya organisasi dan jasanya. Benar juga bahwa, ada beberapa Perhimpuanan Nasional yang menjalankan beberapa institusi seperti rumah sakit yang terdiri dari pegawai yang di bayar setiap bulannya.

Namun, jaringan relawan yang luas adalah menyebabkan perhimpunan nasional menjadi besar dan kuat. Saat ni, Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah memiliki 97 juta anggota dan relawan. Definisi dari apa yang dimaksud dengan relawan dari satu negara ke negara lain bisa berbeda-beda, dan juga berbeda dengan tingkat keterlibatan satu orang dengan orang lain. Namun Federasi memiliki definisi yang menjelaskannya dalam Kebijakan Relawan yang disahkan pada tahun 1999.

Banyak Negara memiliki tradisi pemahaman apa yang dimaksud dengan relawan, dan ini telah menjadi akar dalam sejarah dan tradisi, dan sangat mencerminkan nilai-nilai budaya. Oleh karena itu dari satu negara ke negara lain pasti berbeda, dan dalam waktu tertentu juga mengalami perubahan sesuai dengan perkembagan masyarakat.

Apa saja yang melibatkan relawan, dan bagaimana diorganisir, tergantung pada situasi ekomomi dari negara tersebut dan juga tingkat pendidikan dan pengalaman kerja dari populasi pada umumnya. Di Amerika Utara dan Eropa Barat, sebagai contoh, relawan didominasi oleh kelas menengah. Di Afrika dan Eropa Timur, dimana tidak ada kelas menengah makan relawan di organisir dengan cara yang lain.

Peran yang dimainkan oleh relawan?

Di tingkat lokal, relawan palang merah dan bulan sabit merah merupakan jantung dari kegiatan untuk membantu masyarakat rentan. Bekerja dibawah pimpinan kelompok relawan, pelayanan jasa oleh relawan biasanya di tugaskan untuk melaksanakan tugas tertentu. Ini bisa dalam bentuk penggalangan dana, pertolongan pertama, supir ambulan, menjelaskan pelayanan telpon, pembagian makanan, kesiapsiagaan bencana, mendampingi lansia, untuk menyebutkan berapa kegiatan, yang berdasarkan kebutuhan dari masyarakat. Ada ratusan, sampai  dengan ribuan tugas yang berdeda yang dapat dilakukan oleh kelompok masayarakat di seluruh dunia.

Pelayan relawan biasanya direkrut oleh jasa relawan yang terstruktur dan dikembangkan dan di jalankan oleh relawan dan manajer program. Namun, yang di garis depan pelayanan relawan juga bisa di lakukan oleh kelompok mandiri dari anggota kelompok rentan yang dikelola menjadi kelompok bantuan mandiri. Ini bentuknya tergantung dari situasi dari perhimpunan nasional yang juga bisa berdiri berdampingan dengan Perhimpunan nasional.

Pada tingkat kepemimpinan, relawan memiliki peranan kunci, dan presiden dari perhimpunan nasional biasa juga merupakan seorang relawan juga. Relawan yang menjadi anggota dari dewan pengurus mempunyai tanggung jawab untuk pekerjaan dan perilaku organisasi dan menghadiri majelis umum untuk mensahkan dan menentukan kebijkan-kebijakan dan masa depan organiasi. Mereka bisa menjadi anggota pengurus di tingkat lokal, regional, nasional dan mereka juga dapat di pilih melalui komite-komite.

Pengacara, penggalang dana dan hubungan masyarakat merupakan professional yang dapat membantu Perhimpunaan nasional sebagai relawan ahli di tingkat lokal, regional dan nasional.

Menjadi Relawan

Perhimpunan nasional merekrut relawan untuk melaksanakan tugas tugas-secara langsung maupun tidak langsung untuk membantu masyarakat rentan. Setiap Perhimpuanan national memiliki berbagai macam program untuk relawan, dan membutuhkan beberapa ketermpailan yang berbeda untuk  membuat program tersebut efektif.

Untuk menjadi relawan anda dapat menghubungi Palang Merah atau Bulan Sabit Merah, di cabang terdekat dan mencari tahu program yang sedang di jalankan dan membutuhkan relawan.

Relawan International

Federasi Internasional tidak secara langsung mengadakan relawan untuk operasi international. Hal ini karena Prorgam internasional Federasi, selalu bekerjsa sama dengan perhimpunan nasional.  Oleh karena itu, federasi tidak mempunyai program relawan yang tersendiri.

Federasi International juga tidak memiliki program pertukaran antara Perhimpunan nasional. Namun sangat mungkin sebuah Perhimpunan nasional melaksanakan program pertukaran untuk relawan.

Asal Usul Relawan Palang Merah

Tindakan relawan merupakan jantung dari berdirinya Palang Merah. Pada Peperangan Solferino pada tahun 1985, Henry Dunant mengorganisir beberapa wanita dari desa untuk membantu korban yang luka-luka dan sekarat yang ditinggalkan begitu saja oleh tentaranya sendiri. Lalu dia pulang untuk menuliskan buku berjudul Memory tentang Solferino, yang menjadi awal mulai berdirinya palang merah untuk beberapa tahun ke depan.

“Apakah tidak mungkin, dalam keadaan tenang dan damai, untuk membentuk perhimpunaan pertolongan dengan tujuan untuk memberi perawatan kepada korban luka-luka dalam keadaan perang oleh relawan yang bersemangat, mempunyai dedikasi dan mempunyaik kualifikasi?” Dia menulisnya.

“Untuk pekerjaan seperti ini, pertolongan yang harus membayar bukan hal yang diinginkan.. apabila ada kebutuhan, oleh karena itu, relawan perawat dan relawan mantri, yang bersemangat, terlatih dan berpengalaman, yang memiliki posisi yang diakui oleh komandan atau tentara di perang, dan misi mereka adalah untuk memfasilitasi dan mendukung mereka.

Dari kata-kata itu, keseluruhan gerakan palang merah dan bulan sabit merah bertumbuh, dan menyebar dari negara ke negara dengan semakin banyak masyarakat lokal yang terlibat, membantu sebuah perhimpunan, dan memiliki relawaan dalam pengurus dan mulai merekrut relawan-relawan.

2001: Tahun Internasional Bagi Relawan

Perserikatan Bangsa-Bangsa memdeklarasikan bahwa tahun 2001 merupakan tahun internasional bagi Relawan (IYV 2001). Di seluruh dunia, pemerintahan dan organisasi relawan merayakan tahun ini, khusus untuk para relawan dan menggunakan kesempatan ini untuk mempromosikan ide tentang kesukarelawanan .

Untuk sebagai orgasnasi yang memiliki relawan yang cukup tidak hanya bergantung pada kerja dan citranya sendiri, namun juga harus secara umum bermanfaat bagi negara sendiri. Akan membuat pengaruh yang besar kepada pemerintah apabila mereka memahami pentingnya kesukarelawanan dan memporomosikan ini dalam bentuk perkataan maupun tindakan. Akan lebih mudah untuk merekrut relawan apabila masyarakat umum percaya bahwa menjadi relawan adalah bermanfaat dan baik.

Federasi international Palang Merah dan Bulan Sabit Merah telah memutuskan untuk berperan aktif dalam IYV 2001. Tahun itu merupakan kesempatan untuk Perhimpunan Nasional untuk memperbaiki kerja rekrutmen, seleksi, pelatihan, pengelolaan dan penghargaan terhadap relawan dan untuk mempromosikan lingkungan kesukarelawaan di negara mereka.

Banyak Palang Merah dan Bulan Sabit Merah secara aktif dalam merayakan tahun itu dengan berbagai cara yang kreatif, dan bergabung dengan organisasi lainnya dan pemerintah dalam secara aktif mengelola dan mempromosikan IYV 2001 di tingkat nasional dan lokal.

IYV 2001 secara resmi diupacarakan oleh PBB di New York pada tahun 28 Desember 2000. Salah satu narasumber adalah Dr Astrid Heiberg, Presiden dari International Federation. Dalam pidatonya dia menjelaskan perubahan yang diberikan oleh relawan yang membantu masyarakat rentan dan kebutuhan untuk mendukung kerja relawan.

Pada bulan januari 2001, ada Konferensi Relawan Dunia ke XVI IAVE, di Amsterdam, yang melibatkan 30 Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. President Astrid Heberg juga menjadi narasumber dan memberikan pidato, sekaligus mengikuti rapat untuk perwakilan Gerakan dalam bagaimana relawan dikembangkan dan didukung.

Sebuah pernyataan juga diberikan oleh perwakilan Federasi kepada PBB di dalam rapat Komisi Pengembangan Sosial, Sesi ke 39, New York pada tanggal 15 Pebruari.

Sebagai bagian dari IYV, tema untuk hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah 8 Mei – sebagai “relawan – membuat perbedaaan di dalam kedidupan masyarakat”.

During the rest of the year the International Federation will continue to support and encourage its members to play active roles in the year, and to look at continuing the momentum from the year in future work to develop volunteering.

Pada bulan bulan berikutnya federasi international tetap mendukung dan mengajak anggotanya untuk ber peran aktif dalam tahun ini, dan tetap mempertahankan momenten ini untuk mengembangkan kesukarelawan di masa depan.

Ikrar Relawan

Mengakui pentingnya relawan bagi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, Federasi International telah membuat ikrar dalam konferensi internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah pada bulan 1999.

Relawan merupakan kekuatan yang penting dalam Perhimpunan Nasional; karena mereka adalah kekuatan kemanusiaan” dan juara dalam nilai-nilai kemanusiaan di Palang Merah dan Bulan Ssabit Merah. Oleh karena itu Federasi Internasional mengikrarkan hal-hal berikut:

  • kajian ulang tentang situasi relawan dan identifikasi wilayah dimana perubahan diperlukan untuk memperbaiki pelayanan jasa kepada penerima manfaat, status relawan dan peran mereka dalam orgasanisasi
  • mengembangkan kebijakan yang jelas, pedoman dan praktek manajemen yang terbaik untuk relawan yang mengembangkan fokus pada pengembangan sumber daya manusia.
  • Menjamin bahwa kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan dari segala umur dalam pelayanan jasa relawan dan kepemimpinan perhimpunan masyarakat, untuk memperbesar keterlibatan kelompak marginal dan untuk memberi dukungan kepada pegawai
  • Untuk bekerjsa sama dengan pemerintah untuk memperluas dasar hukum, keuangan dan politik untuk relawan dan mobilisasi dukungan publik.
  • Memperluas kerjasama dengan organisasi relawan yang lain di semua tingkat, dan memainkan peranan yang besar dalam Tahun Internasional Relawan pada tahun 2001.

Pengelolaan Relawan

Pada Majelis Umum Federasi Internasional pada tahun 1999, dan pada athun 2001, pengembangan relawan merupakan wacana penting yang dibahas. Pada tahun 1999 Majelis Umum menyetujui Kebijakan Sukarelawan dalam Federasi dan membuat ikrar pada Konferensi International ke 27.

Pada tahun 2001 Majelis Umum, secara khusus membahas topik tentang Relawan efektif sebagai prasyarat untuk Perhimpunaan Nasional yang berfungsi dengan baik.

Ada dua pidato yang diberikan pada mejelis yaitu : relawan di Negara Dunia Ketiga – pengalaman di Palang Merah Filipina dan Perhimpunan Nasional harus memperbaiki secara drastis manajemen relawan.

Dewan Pengurus Frederasi Internasioanl mengadakan rapat secara rutin untuk membahas permasalahan tentang pengembangan relawan.

Pengembangan Relawan yang Sensitif terhadap Budaya

Relawan merupakan fenomena yang hadir dalam setiap masyarakat namun pasti ada perbedaan antar negara, dan juga ada kemungkinan bahwa terdapat perbedaan antar daerah di dalam satu negara. Faktor faktor yang mungkin mempengaruhi bagaimana relawan dianggap dan di kelola di dalam negara termasuk:

  • demografik
  • agama
  • kesejahteraan ekonomi
  • peran jender
  • pelayanan negara terhadap warga negara
  • politik dan pendangan ideologis tentag relawan

Bagi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, sangat penting bahwa Perhimpunan Nasional mengembangkan relawan berdasarkan tradisi dan budaya yang ada di negaranya. Bentuk lokal dari kerelawanan harus di hargai dan dikembangkan dalam Perhimpunan Nasional, donator dan delegasi.

Permasalahan Hukum Terkait dengan Relawan

Pengaturan hukum dan keuangan bagi relawan dan organisasi akan berbeda dari satu negara dan negara lain dan bagaimana negara menangani masalah relawan di dalam negara itu. Sebagai contoh permasalahan hukum yang akan terkait dengan relawan adalah:

  • apakah orang pengangguran boleh menjadi relawan
  • apakah potong pajak kepada organsiasi relawan merupakan persaingan yang tidak sehat
  • apakah organisasi relawan bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh relawannya.

Federasi Internasional memilki Komite Hukum untuk mengembangkan pemahaman dan keahlian tentang beberapa masalah hukum berkaitan dengan relawan. Komite bekerja dengan mengembangkan daftar permasalahan hukum yang bisa dihadapi oleh relawan dan salah satu bagian dari kerjanya adalah untuk mengembangkan daftar materi hukum tentang relawan.

Publikasi “Alat dan Tehnik untuk Program Relawan – Eropah’ memiliki bagian yang menjelaskan sebuah sistem untuk askes terhadap faktor legal pada saat mau merumuskan program tentang relawan.

Organisasi relawan yang Efektif

Ada bebrapa faktor umum yang terdapat dalam organisasi relaawan yang berhasil, yaitu faktor yang terdapat di dalam dan di luar Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.

Di tingkat masyarakat, organsasi efektif adalah yang pada umumnya respons terhadap kebutuhan masyarakat dan pelayanan adalah untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Di dalam banyakkasus, relawan direkrut dan dilatih dan didukung di sebuah wilayah yang terdapat kebutuhan yang mendesak. Relawan menjalankan kegiatan secara sukarela dan melakukan pekerjaan dengan komitmen bersama masyarakat dan keluarga.

Dalam organisasi relawan yang berhasil, unit masyarakat lokal dapat didukung oleh kantor wilayah atau struktur yang dapat membagi infromasi kepada unit lokal dari organisasi pusat, dan secara efektif mengumpulkan dan mendistribusikan infromasi dari lapangan dan masyarakat sendiri.

Dalam banyak kasus, Pusat harus mendukung di tingkat daerah, mengumpulan infromasi nasional dan mengembangkan strategi dan mendukung kerja lokal.

Di dalam organisasi yang mengikuti model dengan memilki kantor di tingkat masyarakat, daerah dan pusat, ada dua system yang dapat dilihat yaitu:

  • Sistem lokal yang merekrut dan mengelola relawan di dalam program lokal
  • Sistem national yang menyediakan dukungan dan keahlian dalam pelayanan kepada unit di dalam masyarakat melalui tingkat daerah apabila dibutuhkan.

Daftar Pustaka tentang Manajemen Kerelawanan dan Pengembangan relawan

Recommended generic book on volunteer management
McCurley & Lynch (1996), Volunteer Management – Mobilising all the Resources of the Community. Heritage Arts Publishing, Downers Grove, USA. ISBN 0-911029-45-1.

Research on volunteering

Salamon L and others: Global Civil Society: Dimensions of the Nonprofit Sector. Baltimore, Center for Civil Society, 1999
Comprehensive analysis of voluntary sectors in 22 countries around the world.

By same authors: The Emerging Sector revisited: A summary – Revised Estimates Updated English summary of above, available as above.

Gasket, K and Davis Smith, J: A new civic Europe? A study of the extent and role of volunteering. London: Volunteer Centre UK, 1995.
Study on volunteering in ten European countries.

Books on non-profit management

Drucker, P. Managing the non-profit organisation. Harperbusiness, 1992. Management theory on how non-profit organizations function.

Books on managing and evaluating volunteer systems

Ellis, S and Noyes, K: Proof Positive: Developing Significant Volunteer Record-keeping Systems. Philadelphia: Energize, 1990.
The basics of volunteer record-keeping made easy, with sample forms and records.

Ellis, S: Volunteer Management Audit. United Way of America, 1992.
Tool for auditing and evaluating volunteer programmes in a series of booklets.

Ellis, S: IB. Philadelphia: Energize, 1996.
Understanding volunteer management and its implications for an organisation.

Kuric, C and Koll S: A Roadmap to managing volunteer systems: From grassroots to national. National Health Council Inc. 2001
Looks at the entire system of a national organization supporting local volunteer organizations.

Books on managing service delivery volunteers

Campbell, K. and Ellis, S. The (help!) I-don’t-have-enough-time Guide to Volunteer Management. Philadelphia: Energize, 1995.
Ideas on how volunteer management can be structured more efficiently.

Lee, J. What we learnt (the hard way) about supervising volunteers. Philadelphia: Energize, 1998.
Tips, ideas and case studies for volunteer supervisors and managers.

McCurley, S and Lynch, R: Volunteer Management: Mobilizing all the resources of the Community. Heritage Arts Publishing, 1996.
Examines all aspects of successful volunteering management with quotes and sample sheets.

Most books on volunteer management can be ordered direct from Energize (www.energizeinc.com). A regular catalogue can also be ordered via the Energize web site.

Sumber:  http://pmidiy.wordpress.com/2008/07/16/apa-itu-relawan/

Konsep Relawan di Rumah Zakat Indonesia (RZI)

Memasarkan Relawan..

Marketing atau pemasaran, istilah yang sering kita dengar dalam ekonomi. Tetapi setelah mengamati, membaca, mengalami saya mempunyai kesimpulan bahwa marketing dapat digunakan untuk banyak hal. Pemasaran adalah sebuah konsep umum yang bisa diterapkan dalam perusahaan, organisasi, bahkan individu. Produk dan jasa yang ditawarkan kemudian bisa menjadi diri kita sendiri ataupun organisasi Relawan RZI adalah organisasi yang bergerak dan konsen terhadap permasalahan-permasalah yang dihadapi mustahiq (Baksos, pengobatan gratis, santunan beasiswa, pendampingan usaha dll). Dalam tingkatan kebutuhan Abraham Maslow, Relawan memenuhi kebutuhan manusia tingkat 3 (dicintai & disayangi) dan 4 (kebutuhan dihargai) , juga membantu untuk mencapai puncak piramida, realisasi diri. Bagi Anda yang tidak terbiasa dengan disiplin pemasaran barangkali akan merasa aneh dengan istilah positioning, brand, core competence, dsb

Bagaimana sebuah organisasi kemasyarakatan Relawan kemudian bisa ditawarkan sebagaimana produk/jasa? Dalam tulisan ringkas ini saya mencoba beradaptasi dengan konsep marketing Hermawan Kartajaya dan menyandingkannya dengan kondisi Relawan, tentunya dengan bahasa yang kita pahami bersama. Semoga.

Ada banyak organisasi di sekeliling kita, lengkap dengan kegiatan dan tujuannya masing-masing. Ada yang telah puluhan tahun berdiri, ada juga yang baru. Bagi saya mereka semua memiliki potensi-potensi untuk berkembang dan maju, tetapi yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana mereka menggunakan semua sumber daya yang ada agar organisasi tetap eksis dan mencapai tujuan. Karena itulah kebutuhan mereka. Alasan mereka ada.

Bagaimana agar organisasi berkembang? Kita harus berpikir secara marketing. Kita harus berpikir secara strategis mengenai organisasi dan potensi yang ada. Bagaimana kita mengenal target pasar, memposisikan Relawan dibenak stakeholder, menyikapi Organisasi Relawan RZI (OR RZI) sebagai sebuah brand (merek) dan peduli untuk membangun core competence (keunggulan bersaing)?

Organisasi sama saja dengan perusahaan. OR memiliki sumber daya yang harus diolah dan dikembangkan. Sumber daya kita adalah anggota/pengurus sebagai SDM. SDM tangguh, atau kader ini nantinya yang akan mengembangkan dan memanage sumber daya yang lain: keuangan, organisasi, waktu, untuk mewujudkan visi dan misi. Sumber daya – sumber daya tersebut harus kita olah dan kembangkan untuk “dipasarkan” kepada target market dan stakeholder. Bagaimana caranya untuk sukses dipasarkan? Hanya satu kalimat. Sumber daya Relawan harus memberikan value kepada stakeholder nya.Value (nilai) dari sebuah produk shampoo misalnya, selain dia mampu membuat rambut indah dan mencegah ketombe, ternyata mampu menghadirkan rasa sejuk di kulit kepala. Konsumen pun menjadi senang menggunakannya. Atau value anda ketika berkerja, mampu melayani customer dengan baik sehingga bos menyukai pekerjaan anda.

Apa value yang diberikan OR RZI kepada stakeholdernya? Sebelum menjawab kita harus menyepakati siapa stakeholder kita? Di perusahaan yang dimaksud dengan stakeholder utama adalah customer (pelanggan), people (karyawan) dan shareholder (investor). Hermawan Kartajaya meringkas ketiganya menjadi customers. Stakeholder OR RZI adalah kadernya sebagai internal customer, seluruh Mahasiswa dan pemuda di Indonesia sebagai eksternal customer, dan pemerintah/pihak swasta/perseorangan yang concern dengan eksistensi OR RZI sebagai investor customer. Kepada customers ini, kita memberikan value seperti yang dijanjikan dalam visi, misi OR RZI Bukan hanya kepada 1 (satu) customer. Pada beberapa daerah sering kita jumpai pengurus OR RZI sibuk memberi value kepada investor customer, yang sibuk mencari anggota baru (eksternal customer) dengan mengabaikan kader yang telah ada (internal customer). Jarang kita jumpai pengurus yang mampu memberikan value berimbang kepada ketiga customer (customers). Inilah tantangan dalam manajemen pemasaran OR RZI Dari sini kita sudah mulai mengenal dan menyadari bahwa marketing juga penting bagi organisasi. Seperti halnya sebuah produk/jasa OR RZI harus dipasarkan kepada orang-orang, baik yang muda ataupun tua, pemerintah dan swasta. Kepada semua yang menjadi target pasar kita. Dengan demikian marketing OR RZI menjadi pemikiran stratejik.

Sebelumnya telah diulas bahwa core competence (keunggulan bersaing) harus dibangun. Seperti yang kita baca dalam teori manajemen, sumber daya harus dimaksimalkan untuk menjadi keunggulan bersaing. Mentranformasi sumber daya manusia, waktu, keuangan, organisasi OR RZI menjadi kompetensi yang akhirnya menjadi keunggulan bersaing kita dengan organisasi-organisasi lain. Tentu bukan pekerjaan mudah. Karena dari sinilah semua berawal. Bagaimana membangun keunggulan bersaing? Hermawan Kartajaya menawarkan Sembilan Elemen Pemasaran.

Dalam dialog kali ini kita membatasi hanya membahas sub sistem yang menjadi elemen penting dalam pemasaran, yaitu: positioning, diferensiasi, dan brand. Positioning Yaitu: bagaimana kita mampu secara tepat memposisikan diri di benak customers atau target pasar.Diferensiasi Yaitu: bagaimana kita menopang positioning yang tepat tersebut dengan diferensiasi (perbedaan) yang kokoh.Brand Yaitu: bagaimana kita membangun ekuitas merek OR RZI secara berkelanjutan. Segitiga positioning, diferensiasi, dan brand (PDB) diatas menurut Hermawan Kartajaya adalah core strategy (strategi kunci) dalam pemasaran. Begitu juga bagi pemasaran OR RZI.

Pertama-tama kita harus memposisikan OR RZI dengan jelas di benak customers. (Customers, bukan customer. Berarti ketiga pelanggan kita, yaitu: Semua Relawan, anggota/pengurus, dan pemerintah/swasta/perseorangan. Stakeholder utama OR RZI).Posisi kita adalah sebagai organisasi dakwah sosial di tingkat nasional dengan semangat ikhlas, berjiwa relijius, moderat, dan berpikiran progresif. Inilah posisi sekaligus janji kita kepada customers.Positioning OR RZI harus memiliki diferensiasi yang kokoh agar memiliki kredibilitas dan dipersepsi positif di benak customers. Lalu apa diferensiasi kita ? OR RZI adalah organisasi dakwah sosial tingkat nasional, yang telah menjalin kerjasama strategis (co-branding) dengan karib-nya dari organisasi mahasiswa , seperti KAMMI (kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), BEM (badan Eksekutif Mahasiswa) dan lain sebagainya ketika ada aksi sosial.

Selain itu sebagai sebuah organisasi kader, OR RZI concern kepada pendidikan (Kaderisasi) anggotanya melalui berbagai bentuk pelatihan dan praktek berorganisasi yang disusun dengan sistematis. Secara umum diferensiasi kita seperti yang terumuskan dalam visi, misi OR RZI Sebagai wadah pemersatu sobat muda relawan dan alat pendidikan kader dengan peningkatan dalam hal jumlah dan kualitas.

Positioning dan diferensiasi yang kokoh akan membentuk brand integrity (integritas merek) yang pada akhirnya akan menjadikan brand image OR RZI kuat. Jika proses penguatan diatas berjalan sempurna maka akan tercipta self reinforcing mechanism (proses penguatan berkelanjutan) diantara ketiga unsur positioning-diferensiasi-brand. Disinilah peran Pengurus OR RZI sebagai seorang marketer (pemasar). Menggerakkan roda Organisasi melalui segitiga PDB kearah jarum jam positif, menuju cita-cita bersama.Tetapi INGAT Jika positioning tidak menjadi brand identity, diferensiasi tidak menjadi brand integrity, dan keduanya secara bersama-sama gagal membentuk sebuah brand image yang kokoh, maka yang terjadi adalah erosi. Perputaran segitiga PDB berbalik kearah negatif, dan inilah awal dari kematian (bangkrut).

Mungkin sebuah contoh, bisa membantu penjelasan. Ketika sebuah Pimpinan Cabang (Korel) OR RZI berencana mengadakan Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB), maka langkah pertama mereka adalah melakukan sosialisasi keberadaan OR RZI di wilayahnya. Mereka menugaskan sales (penjual) OR RZI ke kampus-kampus untuk mengajak mahasiswa-mahasiswi atau masyarakat bergabung menjadi calon anggota. Tahapan berikutnya, para calon anggota yang tertarik dengan jasa OR RZI, seperti apa yang mereka dengar dan baca dari brosur mulai mengisi formulir pendaftaran. Mereka pun kemudian diberi product knowledge (materi pengenalan OR RZI/ Orientasi Relawan) dan dijanjikan sebuah visi-misi, jati diri dengan semangat berapi-api. Selalu mengawali dan mengakhiri setiap pertemuan. Bagi mereka yang sedikit banyak menguasai product knowledge OR RZI kemudian memasuki tahapan terakhir MPAB : Diksar . Calon anggota resmi menjadi anggota OR RZI. Menjadi internal customer OR RZI Selang seminggu..sebulan..setahun….kader-kader muda ini menunggu, tetapi lacur panggilan tugas tidak kunjung datang. Ternyata tidak ada program kerja (event) yang pengurus lakukan. Tidak ada Kaderisasi Tahap I. Tidak ada itu realisasi visi-misi.

Perlahan namun pasti internal customer kecewa dan menghilang. Beralih kepada pengusaha jasa lainnya, yang memberi services (pelayanan) lebih baik. Koordinator Relawan kehilangan tuas kemudinya. Brand OR RZI dipersepsi negatif di benak customer. Contoh lain, dapatkah kita bayangkan perasaan seseorang yang datang ke jasa pendidikan (kursus), membayar sejumlah uang untuk level tertentu, tetapi setelah sekian lama menunggu tidak kunjung mendapatkan pendidikan dan hanya dimasukkan waiting list (daftar tunggu) tanpa jaminan uang kembali ?Apakah contoh diatas terjadi dalam organisasi kita? Jika iya, maka lupakan kesadaran. Yang ada sekarang hanyalah kebutuhan. Tidak ada lagi kesadaran berorganisasi. Yang ada hanyalah kebutuhan/keinginan yang harus dipenuhi. Maka, Marketing OR RZI merupakan alternatif solusi.

EPILOG
Marketing is human activity directed at satisfying needs and wants through exchange processes (Philip Kotler). Market-ing harus menjadi sebuah konsep bisnis strategis yang bertujuan untuk meraih kepuasan berkelanjutan bagi ketiga stakeholder utama: pelanggan, orang-orang dalam organisasi itu, serta para pemegang saham. Market-ing adalah jiwanya, bukan sekedar bagian dari tubuh organisasi. Maka dari itu, setiap orang dalam organisasi harus menjadi marketer (Hermawan Kartajaya).

Mengapa Anda membeli, membayar untuk sebuah produk/jasa? Mengapa Anda bergabung dengan sebuah Organisasi?Jika motif utama adalah kontribusi amal dan ikhlas karena Allah jikapun kita masih berpikir marketing hanya alat kapitalisme, maka biarkanlah. Yaa ayyuhal insaanu innaka kadikhun ilaa robbikakadkhan famulaaqiih
(wahai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja menuju robbmu, maka kamu akan menemuinya..) Q.s Al-Insyiqoq.

Tulisan ini adalah adaptasi dari buku Marketing Yourself oleh Hermawan Kartajaya
saya hanya menggubahnya saja…

Sumber: http://target-j08.blogspot.com/2008/02/memasarkan-relawan.html

“Suka-Rela” Seorang Sukarelawan

18 Juli 2008

OLeh : Sawaludin Permana

Seperti sifat alamiahnya, pada dasarnya setiap manusia memiliki jiwa sukarela dan tolong-menolong antara sesama, baik orang yang ditolongnya dikenal atau tidak. Dalam suatu peristiwa, ketika terdapat korban tak berdaya, tanpa komando dan aba-aba, siapa pun yang dekat dengan kejadian pasti akan berhamburan dan menolong korban yang terlibat dalam kejadian itu.

Dari contoh kecil tersebut, sudah dapat dibuktikan, sejak kita diturunkan ke dunia kita memang sudah dilengkapi sikap tersebut, yaitu sikap untuk saling tolong-menolong. Rame ing gawe, sepi ing pamrih, banyak kerja sedikit harapan akan imbalan atau malah mungkin tidak sama sekali –begitulah kira-kira gambaran kasar dari sikap kesukarelawanan.

Meski demikian, tidak semua orang dapat melakukan sikap kerelawanan, apa pun alasannya, yang pasti hanya orang-orang yang memiliki sikap empati yang tinggi saja yang mampu menjalaninya, hanya orang-orang yang dapat merasakan penderitaan orang lain secara mendalam saja mampu menggerakkan hatinya untuk mengulurkan tangan dan menarik orang yang menderita dari kesusahan. Biar pun tidak sepenuhnya lepas dari penderitaan, setidaknya dapat mengurangi.

Memang sudah dikatakan sejak awal bahwa setiap manusia dibekali sikap sukarela tersebut dan karenanya ia disebut sebagai makhluk sosial. Tapi perlu juga diingat, adakalanya seseorang itu memutuskan menolong atau tidak menolong dalam suatu keadaan peristiwa. Keputusan yang akan diambil seseorang tergantung oleh banyak hal, entah itu keadaannya, suasana hatinya, lingkungan, orang-orang sekitarnya, atau pikiran macam-macam yang berada dikepala seseorang tersebut untuk memutuskan ia mau menolong atau tidak menolong, bahkan bisa acuh tak acuh. Itu berarti menunjukkan bahwa cuma orang yang berempati saja pada suatu peristiwa dan dengan sikap ke-suka-rela-an yang sudah terlatih saja yang dapat terjun langsung memutuskan menolong tanpa pikir panjang.

Mari kita ambil satu contoh serderhana, kali ini kita berada dalam sebuah angkutan umum dan ada tukang minta-minta berjalan sambil mengulurkan tangan untuk mengharapkan belas kasihan orang-orang yang berada dalam angkutan umum tersebut. Kita bisa lihat –kalau kita duduk pada bangku paling belakang- siapa saja yang memberi, siapa yang tidak. Siapa yang besar memberi dan siapa yang paling sedikit. Sampai tangan itu menyodor kearah kita dan melihat tumpukan uang ditangan pengemis itu dihadapan kita. Apakah kita akan merogoh kantong kita mencari lembaran uang dengan nominal besar atau sekedar uang recehan dengan nominal paling kecil yang ada dalam kantong, seandainya saja kita mengingat-ingat jumlah uang yang berada dalam kantong, karena hal ini penting untuk pencatatan pengeluaran –seandainya juga Anda seorang pencatat pengeluaran keuangan pribadi Anda dengan sangat teliti sekali- lalu kita memberikan sebagian rejeki kepada pengemis itu, padahal ditangannya sudah menumpuk uang kertas dan receh yang diberikan orang-orang kepadanya? (Anda atau pun saya tidak perlu menjawabnya sekarang).

Tapi seandainya kita tepat berada dalam situasi demikian, bukan simulasi, apakah Anda akan memberi? Apakah akan berpikir panjang lebar terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memberi atau tidak? Meski, seandainya, pengemis itu masih beberapa langkah dari hadapan Anda. Apakah Anda akan meliarkan mata dari kaki sampai ujung rambut pengemis itu sebelum menjatuhkan sekoin recehan ke tangan pengemis tersebut, bahkan selembar uang sepuluh ribuan?!

Saya tidak mencoba untuk berusaha menghakimi siapa-siapa dalam hal ini, apakah Anda atau saya adalah orang yang tulus atau tidak tulus, itu hanya masalah pilihan saja. Yang mau coba saya tekankan adalah bagaimana sikap kesukarelaan itu dapat muncul dalam suatu keadaan atau peristiwa dalam diri seseorang. bahkan mungkin dalam aspek kehidupan sosial yang lebih besar lagi ketimbang hanya sebuah kecelakaan mobil umpamanya.

Bagi saya, apa pun lembaga-lembaga yang diusung seseorang, motivasi dan sikap politis atau tidak politis apa pun yang diemban, mengharapkan tanda jasa, imbalan atau benar-benar tulus tidak mengharapkan apa-apa dalam melakukan tindak kesukarelaan. Sikap itu akan selalu ada pada diri orang-orang yang memang memiliki rasa sosial dan empati yang tinggi, dalam setiap jaman!***

Sumber: http://permanas.wordpress.com/2008/07/18/“suka-rela”-seorang-sukarelawan/%5D

3000 Mahasiswa IPB Jadi Relawan Pembuatan Biopori

Institut Pertanian Bogor (IPB) menerjunkan 3.000 mahasiswanya menjadi relawan yang membantu warga Kota Bogor dalam membuat lubang biopori di rumah-rumah warga.

Lubang biopori yang berdiameter 10 sentimeter dengan kedalaman 80 sampai 100 sentimeter, merupakan teknologi sederhana untuk membantu dalam konservasi lahan, yang selanjutnya dapat mencegah longsor dan banjir. Hal tersebut terungkap dalam acara “Pelucuran 25 Inovasi IPB untuk Lingkungan dan Masyarakat” di Kampus IPB, Dramaga, Kabupaten Bogor, Kamis (5/4). “Pelibatan mahasiwa dalam kegiatan pembuatan lubang biopori ini, bukan tuntutan lembaga IPB kepada mereka, tetapi komitmen mereka sendiri, para mahasiwa yang tergabung dalam Jaringan Mahasiwa Peduli Lingkungan IPB, yang diketuai Dwi Maswapati,” kata Kepala Humas dan Promosi IPB, Agus Lelana, usai acara tersebut.

’’Pembukaan kegiatan yang melibatkan ribuan mahasiswa itu dilaksanakan di Lapangan Sempur, yang bersebelahan dengan Kebun Raya Bogor dan Istana Kepresidenan Bogor,” jelas Juru Bicara IPB drh Agus Lelana SpMP MSi.

Sementara itu, asisten Sosial Ekonomi Pemkot Kota Bogor Indra M Rusli menjelaskan, Hari Bumi tingkat Kota Bogor tahun ini tidak hanya diperingati peringatan secara seremonial belaka, juga akan melakukan aksi langsung di masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam.

’’Wujudnya, kami melaksanakan pembangunan lubang resapan biopori secara massal. Jumlah lubang biopori sebanyak 5.250 buah disesuaikan hari jadi Bogor yang memasuki usia 525 tahun,” ujarnya.

Menurut Agus, kegiatan pembuatan lubang biopori ini disambut baik oleh Wali Kota Bogor Diani Budiarto. Beberapa perusahaan swasta juga terlibat dalam membantu penyediaan alat untuk mengebor tanah, guna membuat lubang biopori itu.

Walapun para mahasiwa sudah membuat lubang-lubang biopori di beberapa tempat, penerjunan mereka secara masal ke pemukiman-pemukiman di Kota Bogor, mulai dilaksankan 22 April mendatang. Ini bertepatan dengan Kota Bogor memperingati Hari Bumi Sedunia, yang rencannya dipimpin Diani Budiarto.

Kamil R Brata, dosen ilmu tanah, air, dan konservasi lahan di Fakultas Pertanian IPB, menjelaskan, lubang biopori adalah lubang resapan air yang dibuat dengan diameter 10 seniti meter dan kedalaman 80 sampai 100 sentimeter. Lubang ini berfungsi untuk menampung sampah organik, seperti sampah dari dapur. Selain itu, berfungsi untuk menyerap air hujan, sehingga air itu tidak langsung masuk got, lalu ke sungai, dan kemudian terbuang ke laut.

Sementara itu, Kamir R Brata menambahkan, teknologi biopori itu punya kemanfaatan multiguna ketimbang sekadar sebagai solusi alternatif mengatasi banjir,seperti di DKI Jakarta yang hampir setiap tahun melanda.

’’Biopori dapat menjadi sumber resapan air dengan cepat sehingga mampu mengonservasi dengan efektif. Dengan konservasi air yang efektif, tentunya tidak perlu kekurangan air saat musim kemarau dan kelebihan air saat penghujan,” tuturnya. Di samping itu, teknologi ini bisa diaplikasikan di kawasan perumahan maupun di persawahan di perbukitan.

Idealnya, satu rumah memiliki 10 lubang, sehingga pada hari ke-20, pembuangan sampah organik kembali ke lubang pertama, karena sampah organik sebelumnya sudah “habis” menjadi kompos. (RTS/man/ant) dari berbagai sumber

10 Komentar »

  1. bagaimana kah cara daftar untuk menjadi relawan.saya sangat ingin menjadi relawan?

    Komentar oleh selamet danu agung rahmana — Maret 15, 2011 @ 3:14 pm

  2. saya siap jadi salah satu anggota relawan ..dalam bencana apapun…..

    Komentar oleh Mael jonathan panjaitan — April 4, 2011 @ 12:20 am

  3. bagaimana prosedur pemberangkatan para relawan, misalnya untuk bencana perang??

    Komentar oleh CoChoLaTte — April 10, 2011 @ 9:48 am

  4. apakah sulit untuk menjadi seorang sukarelawan?

    Komentar oleh Anonymous — Januari 31, 2012 @ 8:36 pm

  5. tolong infokan bagaimana cara untuk daftar sebagai relawan??saya butuh konfirmasinya…terima kasih

    Komentar oleh Anonymous — Maret 4, 2012 @ 11:20 am

  6. tempat pendaftaran menjadi calon anggota relawan bencana alam maluku pusat kantor d mana ya??

    Komentar oleh Anonymous — September 7, 2012 @ 11:00 am

  7. Pretty! This has been a really wonderful article. Thanks for providing this
    information.

    Komentar oleh nlp training — September 29, 2012 @ 10:41 pm

  8. RELAWAN MERAH PUTIH MEMBUKA KESEMPATAN BAGI PUTRA PUTRI INDONESIA YANG MAU BERGABUNG DAN MENGEMBANGKAN DI TIAP TINGKATAN PROVINSI, KECAMATAN DAN KELURAHAN, RELAWAN MERAH PUTIH ( RMP ) MENGEMBANGKAN NILAI2 KEBANGSAAN DAN KEMANUSIAN DEMI TERCIPTANYA KEUNGGULAN DAN KEMANDIRIAN BANGSA, ( BELLY : 0853.1373.9692 dan 0817.6411.141 )

    Komentar oleh Anonymous — November 3, 2012 @ 8:16 am

  9. Saya ingin menjadi relawan bagaimana cara nya ?

    Komentar oleh Anggi anggara — September 24, 2013 @ 7:48 pm

  10. assalamua’alaikum… ana ingin jadi relawan, tapi tidak tahu mendaftar dimana.. maaf saya harus bagaimana? terima kasih..
    tolong dikirim di wall fb saya ya..

    Komentar oleh ukhty yasyri islamiyah — Mei 20, 2014 @ 1:13 pm


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 170 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: